Syekh Nur Al-Din Al-Raniri (Bag. 4)
Manusia
Konsepsi Al-Raniri tentang manusia sangat diwarnai oleh ajaran mistik yang dianutnya. Dalam penilaian Al-Raniri, manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna di muka bumi. Haal ini bukan saja dikarenakan keberadaannya sebagai khalifah-Nya, tetapi juga sebagai mazhar (tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap. Allah menjadikan manusia (Adam) menurut cita-Nya sendiri, sehingga diciptakan dengan cara tersendiri dan berbeda dengan makhluk lain, yaitu dengan segumpal tanah (asrar al-insan, hlm. 81)
Dalam diri manusia terdiri dari jasad dan ruh. Jasad merupakan lembaga atau wadah bagi ruh, sementara ruh adalah hakekat manusia yang dapat mengetahui segala sesuatu. Al-Raniri menterjemahkan ruh dengan nafs nathiqah (jiwa berpikir). Ruh sangat berbeda dengan jasad, karena ruh bersal dari alam arwah dan menjadikan jasad sebagai tempat ruh. Sedangkan jasad berasal dari alam kalq (alam ciptaan) yang tercipta dari berbagai unsur material.
Definisi seperti ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi merupakaan mudifikasi dari pendapat-pendapat sebelumnya. Para filosof Islam, Mutaakallimin dan Ahlul Hadits memiliki pandangan sendiri-sendiiri. Hampir sama dengan Al-Raniri, para filosof yang lebih banyak dipengaruhi oleh Aristoteles mendefinisikan manusia terdiri dari dua unsur, yaitu materi dan forma. Jasad adalah materinya, sementara jiwa adalah formanya. Keduanya bersatu padu pada diri insan (manusia) secara essensial, dan jasad tidak mungkin berpisah dari jiwa, dan sebaliknya. Kedua unsur ini dalam prakteknya saling mendukung. Bahkan secara khusus, Mutakallimin dan Ahlul Hadits menjelaskan jiwa sebagai jisim yang halus (jism lathif), lebar, panjang, dalam, bertempat, berfikir, membedakan dan mengendalikan jasad.
Masih berkenaan dengan pembahasan manusia, dalam kaitannya dengan ilmu tasawuf, terdapat konsepsi insan kamil. Al-Raniri mendefinisikan insan kamil dengan hakekat atau nur atau ruh Muhammad yang merupakan makhluk yang mula-mula diciptakan oleh Allah dan menjadi penyebab dijadikannya alam ini. Nur inilah yang selalu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam berbagai bentuk, mulai para nabi, para sahabat, tabiin, dan seterusnya. Di kalangan Syiah dipercayai bahwa Nur Muhamad akan berakhir di tangan Imam Mahdi, sementara bagi kalangan ahli sufi, nur itu berpindah ke para wali dan berakhir di Nabi Isa yang akan turun di hari akhir zaman nanti. bagi Al-Raniri, nur Muhammad adalah hakekat pertama yang muncul dalam ilmu Allah atau yang disebut juga dengan ta'ayyun awal yang lahir dari tajjalli zat atas zat.
Agama
Menurut Nur Al-Din Al-Raniri, agama terbagi dalam empat bagian, yaitu iman, islam, makrifat, dan tauhid. Al-Raniri dalam kitabnya, Hidayatu al-Iman bi fadhli al-Mannan, berpendapat “orang mutadayyin adalah mereka beragama Islam yang percaya pada Allah (mukmin), menjungjung tinggi titah Allah (muslim), bersikap arif (makrifat), dan mengesakan Allah (tauhid)
Iman itu sendiri terbagi lagi menjadi dua bagian, yaitu iman yang bersifat umum (mujamal) dan terperinci (mufashshal). Yang termasuk kategori umum adalah beriman kepada Allah beserta sifat-sifatnya dan beriman pada Rasul sekaligus sabda-sabdanya. Sementara yang termasuk kategori terperinci, iman terbagi lagi menjadi enam perkara. Pertama, Iman kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW., mengakui bahwa zat Allah adalah maujud (ada), qadim (dulu kala), baqa' (kekal), mukhalafatu lilhawadits (berlainan dengan makhluk), qiyamuhu bi nafsihi (berdiri sendiri) dan wahdaniyyah (keesaan). Tidak hanya itu, seorang mukmin harus menyakini bahwa Allah memiliki sifat hayah (hidup), ilmu (mengetahui), qudrah (berkuasa), iradah (berkehendak), sam'u (mendengar), bashar (melihat), dan kalam (berbicara). Lebih tegas lagi, Al-Raniri berpendapat, Allah memiliki kehendak yang melebihi kehendak manusia, karena manusia merupakan bagian makhluk (yang diciptakan-Nya). Sementara iman kepada Nabi Muhammad berarti mengakui bahwa beliau adalah benar dalam segala perkataan, perbuatan dan ketetapannya, sebagaimana benarnya surga, neraka, alam barzah, mizan (timbangan arnal), shirath (titian yang akan dilalui).
Kedua, Iman kepada malaikat, beriktikad bahwa malaikat adalah hamba Allah, bukan laki-laki atau perempuan. Mereka memiliki tugas-tugas yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, ada yang bertugas menyampaikan wahyu Uibril), membagi rejeki (mikall), mencabut nyawa (izrail), meniup terompet di hari akhir (israfil),, menanyai orang mati (munkar-nakir), mencatat amal baik-buruk (raqib-Atit), penjaga surga-neraka (ridwan-malik).
Ketiga, Iman kepada kitab suci, meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab suci kepada para rasul-Nya, seperti Taurat ke Musa, Zabur ke Dawud, Injil ke Isa, dan alQur'an ke Muhammad. Keempat, Iman kepada Rasul, beri'tikad bahwa sernua rasul adalah insan-insan pilihan Allah. Mereka bertugas menyampaikan wahyu kepada urnat manusia dan berpesan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Rasul pertarna kali yang diturunkan kemuka burni adalah Adam dan diakhiri oleh Muhammad SAW. Kelima, Iman hari akhir, mempercayai bahwa hari kiamat pasti datang, dan sernua manusia akan dibangkitkan kembali dari kubur untuk menerima balasan amalnya masing-masing. Keenam, Iman kepada Qada' dan Qadar, mempercayai bahwa sernua nasib baik dan buruk adalah di tangan Allah SWT.
Sementara seseorang dikategorikan sebagai muslim. bila telah melaksanakan lima hal. Pertama, mengucapkan dua kalimat syahadat. Kedua, mengerjakan shalat lima waktu dalarn sehari sernalarn. Kettga, membayarkan zakat. Keempat, berpuasa pada bulan Ramadhan. Dan kelima, menunaikan ibadah haji.
Sedangkan yang dimaksud dengan makrifat adalah pengetahuan terhadap zat, sifat, perbuatan Allah. Kernudian, Al-Raniri mengartikan tauhid dengan pengetahuan tentang keesaan Allah, zat, sifat-sifat dan fiil-Nya, dan meyakini bahwa tiada makhluk yang serupa dengan Allah dalam hal-hal tersebut.
Pada dasarnya, makrifat dan tauhid dapat dimasukkan ke dalam masalah iman, namun Al-Raniri memisahkan keduanya dari iman dan membahasnya tersendiri dalam ilmu suluk atau tarekat. Tujuannya, melalui makrifat dan tauhid, Al-Raniri ingin menunjukkan bahwa ilmu suluk atau tarekat integratif dengan iman dan Islam. Pernyataan dua kalimat syahadat dari seseorang tidaklah cukup, kecuali dengan memperdalam dan menghayatinya, sehingga diperoleh makna keesaan Tuhan yang sesungguhnya. Seseorang harus berzikir kalimat thayyibah, Laa ilaha illa Allah, secara terus menerus sehingga melahirkan ilmu mukasyafah yang mendorong peningkatan keimanan, sehingga tidak sekedar pada tahap keyakinan lisan saja (haqqulyakin). Al-Raniri menjelaskan bahwa kalimah Thayyibah memiliki tiga makna, 1) tiada Tuhan selain Allah, 2) tiada dikasihi dan dikehendaki selain Allah Ta'ala, dan 3) tiada wujud Tuhan selain wujud Allah.
Sanggahan terhadap paham Wujudiyyah
Sanggahan Nuruddin Al-Raniri terhadap Harnzah Fansuri dapat ditemui dalam beberapa kitabnya, seperti Asrar al-Arifin, Syarah al-Asyiqin, dan al-Muntabi. Adapun materi sanggaha terdapat dalam empat hal berikut:
- Harnzah mengajarkan ajaran wujudiyyah (panteisme), yaitu Tuhan dalam kandungan (immanen) alam. Tuhan adalah hakekat fenomena alam ini.
- Nyawa bukan merupakan khalik dan bukan juga makhluk.
- Al-Qur"an adalah makhluk.
- Nyawa berasal dari Tuhan, dan kembali akan bersatu dengan-Nya, seperti ombak kembali ke laut.