Al Quran Online
Anda juga bisa menggunakan navigasi berdasarkan surat yang telah disediakan dibawah ini:
 
Pencarian Ayat Al Quran
Anda juga bisa menggunakan pencarian Alquran tentang sesuatu (contoh: sholat,zakat,puasa) :
 
 
Cari Artikel
Anda juga bisa mencari Artikel Islam di Pustaka kami berdasarkan keyword yang anda cari, silahkan gunakan form pencarian dibawah ini:

Berkaitan:


Hadits Pilihan
"Anak Adam mengganggu Aku, mencaci-maki jaman (masa), dan Akulah jaman. Aku yang menggilirkan malam dan siang. "
HR. HR. Bukhari dan Muslim

Pustaka CyberMQ
Syekh Nur Al-Din Al-Raniri (Bag. 3)

Pemikiran Al-Raniri,


Ketuhanan

Berkenaan dengan pernbahasan mengenai ketuhanan, Nur Al-Din Al-Raniri mernfokuskan diri pada tiga masalah, yaitu wujud Allah, sifat dan zat Allah, dan Tajalli serta A’yan Tsabitah.

Dalam pernbahasan tentang wujud Allah, Al-Raniri tidak suka mempergunakan dalil-dalil tentang adanya Allah. Beliau berpendirian bahwa adanya Allah merupakan suatu kenyataan keimanan yang sudah harus diterima karena merupakan suatu kenyataan, sehingga diyakini sebagai suatu kebenaran.

Meski demikian, pendirian Al-Raniri terhadap masalah ketuhanan sangat kompromis. Ia berusaha mencari titik temu antara pendapat Mutakallimin di satu pihak dengan Ahli Sufi di pihak lain. Pihak pertama mempertahankan kesucian Allah dari dipersamakan dengan makhluk (tanzih). Sementara pihak kedua lebih melihat adanya persarnaan dalam kesatuan hakekat Allah dengan alam (panteisme). Pilihan kompromis Al-Raniri ini sebenarnya merupakan bagian dari karakternya sebagai ulama Ahlussunnah wal-Jamaah dan syekh tarekat Rifaiyyah. Di samping itu, pada masa tersebut (abad ke-1 7 M), yang dibutuhkan adalah penghayatan dan pemahaman keagamaan- yang cenderung integratif antara akidah, syari'at, makrifat dan hakekat.

Al-Raniri berpendapat, wujud Allah adalah wujud yang esa lagi hakiki. Untuk mencapai tingkatan ini tidak dibutuhkan dalil selain dengan penglihatan mata hati (kasyf atau dzauq) Adapun alam ini, maka wujudnya tidak lebih sebagai kenyataan bayangan hakekat yang sebenarnya tidak memiliki wujud, dan ia berperan hanya sebagai wadah fenomena inderawi bagi tajalli Allah melalui sifat dan asma-Nya. Lebih kompromis lagi, Al-Raniri berpendapat bahwa perbedaan antara Mutakallimin dengan Ahli Sufi hanya sebatas Ikhtilaf al-Zahir (perbedaan lahiriyyah), bukan esensinya.

Pilihan kompromis Al-Raniri juga terlihat dalam komentarnya mengenai sifat dan zat Allah. Jika kalangan Ahlu Sunnah berpendapat sifat tidak identik dengan zat, dan kalangan Mutakallimin menilai sebaliknya, maka Al-Raniri mencari titik temu dengan mengemukakan dua pendekatan, yaitu aspek wujud dan pengertian. Dari aspek wujud, sifat tidak berbeda dengan zat, karena wujud yang hakiki hanyalah Allah semata, sehingga sifat tidak berlaianan dengan zat. Sementara dari aspek pengertian, sifat berbeda dengan zat, karena pengertian antara sifat dengan zat adalah berbeda, begitu juga pengertian sifat satu dengan sifat lainnya adalah tidak sama. Al-Raniri memperkuat pendapatnya ini dengan mengutip pernyataan seorang sufi Sa'duddin Harnawi dalam kitabnya, Jawahir, "sifat itu adalah ain (kenyataan) zat pada suatu wajah (entitas: istilah penyusun), dan bukan ain zat pada wajah yang lain.”

Lebih dari itu, Al-Raniri berpendapat bahwa sifat-sifat Allah terbagi dalam dua bagian, yaitu sifat zat dan sifat ma'ani. Sifat zat meliputi 6 macam, mulai dari qidam (dahulu), baqa (kekal), mukhalafatu li’I hawadits (berbeda dengan makhluk), qiyamuhu bi nafsihi (berdiri sendiri), dan wahdaniyyat (keesaan). Sementara sifat ma'ani terdiri dari tujuh sifat, yaitu al-hayah (hidup), al-ilmu (ilmu), al-qudrah (kuasa), al-iradah (kehendak), al-sam'u (mendengar), al-bashr (melihat), dan al-kalam (berbicara). Dari sifat ma’ani inilah kemudiaan dikenal dengan sifat ma'nawiyyah, seperti al-Hayyu (Yang Hidup), al-'Alimu (Yang Mengetahui), al-Qadiru (Yang Berkuasa), al-Muridu (Yang Berkehendak), al-Sami’u (Yang Mendengar), al-Bashiru (Yang Melihat), dan al-Mutakallimu (Yang Berbicara). Kemudian, dari sifat-sifat terakhir ini mrincul sifat-sifat fi'il (perbuatan) yang berhubungan dengan alam makhluk, yaitu al-khaliq (Yang Mencipta), al-Raziq (Yang Memberi rezeki), al-Hadi (Yang Memberi Petunjuk), al-Muhyi (Yang Menghidupkan), dan al-Mumit (Yang Mematikan) Jawahir: hlm. 71).

Pembahasan yang terakhir dari pemikiran Al-Raniri mengenai masalah ketuhanan, Tajalli serta A’yan Tsahitah, dapat ditemui dalam kitab jawabir al- 'Ulum fi Kasyf al-Ma'lum dan 'Asrar al-Insan fi Ma'rifat al-Ruh wa al-Rahman. Konsepsi tajalli (Penampakan diri Allah) menduduki posisi penting dalam ajaran mistik Aceh. Karenanya, Al-Raniri dalam kitab al-Jawahir berkata, "rahasia dhuhur Allah pada segala martabat tanzul dan tajalli pada segala makhluk adalah kehendaknya untuk melihat jamal (keindahan)-Nya pada pihak asma dan sifat."

Bahkan, untuk memperkuat konsepsi tajallinya, seperti Ibnu Arabi Al-Raniri mengutip Hadits Qudsi yang artinya:

"Aku (Allah) adalah perbendaharaan yang terpendam (kanzan makhfiyyan). Aku 'ingin supaya dikenal, maka Aku jadikan alam ini, sehingga dengan itu mereka mengenal Aku."

Berangkat dari hadits ini, Al-Raniri berpendapat bahwa tajalli berlangsung pada dua martabat berikut.

Pertama, martabat wahidah. Pada martabat ini terjadi tajalli zat pada sifat dan disebut syu’un zat atau ta’ayyun awwal. Al-Raniri menegaskan, sifat-sifat itu identik dengan zat Tuhan, dan tajalli sifat itu pada hakekatnya adalah suatu peristiwa  ma’nawi yang timbul dari pengertian akal yang mengharuskan adanya zat terlebih dahulu daripada sifat yang wujudnya selalu mengikuti zat. Dari sini, makin jelas bahwa Al-Raniri tidak pernah menyinggung zat Tuhan sepi (mujarrad) dari sifat.

Kedua, martabat wahidiyyab. Pada martabat ini terjadi tajalli asma yang juga disebut ta’ayyun tsani atau a’yan tsabitah (hakekat alam). Mengingat Allah bersifat ilmu, maka ada ma'lum (yang diketahui), dan isi dari yang diketahui (ma'lum) itu adalah hakekat alam semesta atau a’yan tsabitah. Oleh karena itu, a’yan tsabitah adalah hakekat alam yang merupakan obyek yang diketahui (suwar ma’ lumat) yang terletak dalam ilmu Allah. Karena sifat identik dengan zat, maka hakekat alam atau a’yan tsabitah juga tidak berbeda dengan zat Allah. Disini kita berhadapan dengan zat Allah yang esa, dan mengandung potensi hakekat alam semesta.

Dengan kata lain segala hakekat itu telah ada dalam zat Allah sebelum ia bertajalli dalam ilmu-Nya. Secara khusus, Al-Raniri berpesan bahwa perbedaan antara zat Allah dengan a’yan tsabitah bukan terletak pada wujudnya, karena ia tidak berwujud dan yang berwujud hanya Allah, tetapi terletak pada pemahaman akal semata. Penafsiran a’yan tsabitah seperti ini tidak akan menggoyahkan konsepsi dasar bahwa yang ada hanyalah Allah, dan yang lainnya pada hakekatnya tidak ada. Allah adalah esa zat-Nya, tetapi mengandung kejamakan ma’nawi atau aqli. Hakekat kejamakan ini adalah a’yan tsabitah yang lewat tajalli, dan berada dalam ilmu Allah, sehingga disebut ma’lumat (obyek ilmu) Allah. (bersambung…)

*) Intelektualisme Pesantren


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.cybermq.com dari browser ponsel anda!

PrintPrint
KirimKirim
Print PDFCetak PDF
ArsipArsip
RSSRSS

Iklan Mini CyberMQ
unek unek cyberndut
Data office kamu kehapus ama virus.......gini nih cara ngembaliinnya........,muh handry wahyudi,
Home Industri
Menerima Pesanan dan makloon; Tas,Dompet.Dll.Tingal hubungi aja. 022.77888079 - 022.91386631.atau www.hdht_tas.cybermq.com ,Wandy,
unek unek cyberndut
pengen dpetin buku gratis,tp gak tw caranya....:( coba aja dengan cara ini......kunjungi blog www.unekcyberndut.blogspot.com,muh handry wahyudi,
Investasi Mudah Tanpa Cari Downline
Di Prima-Syariah.com mendapatkan Pasive Income Senilai Rp.1.180.000,- Secara gampang dalam jangka waktu kurang dari 1 Bulan, hanya dengan Modal Rp.200.000,-,Sani Muhmad Ramdan,
bisnis keagenan pulsa DBS
pengen punya usaha sendiri???coba deh kunjungi situs ini siapa tau aja cocok....http://www.aktivasidbs.com/?id=handry,muh handry wahyudi,081354317089
Pasang Iklan Disini