Sejak kecil, Muhammad Hidayat Rahz, sarjana ekonomi jebolan FE UGM ini sudah berinteraksi dengan aneka bacaan. Dari mengelola perpustakaan rumah sampai bacaan braille, pernah digelutinya. Ia sempat pula aktif di Lembaga Studi Tanah Air (LSTA), Yayasan Lingkaran Konsumen Hijau (ELKAHAI), serta Wahana Lingkungan Hidup (WALHI).
Pada tahun 1988-1990, lelaki yang akrab dengan panggilan : Hidayat ini, terjun sebagai tenaga relawan dan pendamping belajar pada panti asuhan, panti jompo, dan beberapa asrama tuna netra di Yogyakarta. Semasa kuliah di Fakultas Kedokteran UGM, sampai kemudian pindah kuliah ke Fakultas Ekonomi UGM jurusan Studi Pembangunan, ia cukup aktif menulis di berbagai media cetak. Karena aktifitas "belajar sosial"-nya yang ditekuni dengan penuh kesungguhan, lelaki kelahiran NTB ini kemudian terpilih sebagai fellow 'special relationship' lembaga internasional : Ashoka's Environmental Innovations Innitiative di tahun 1990, dengan fokus perhatian 'pengembangan sumber daya remaja Indonesia'. Sebagai konsultan publikasi Ashoka Indonesia, ia telah mengeditori buku-buku "Menuju Masyarakat Terbuka" (1999), "Perempuan Yang Menuntun"(2000), "Pendidikan Hati" (2000), serta "Kita Harus Merawat Bumi !" (2000). Dan pada tahun 2001, diantara kesibukannya mendalami pekerjaan pendokumentasian dan editorial penerbitan bacaan terpilih bagi publik, ia menerbitkan sebuah buku "Pohon-Pohon Budianta."
Selain aktifitas sebagai fellow, penulis, sekaligus editor, Hidayat memiliki kegemaran berburu buku kuno. Pria yang banyak mengoleksi buku sastra dan sejarah ini, juga senang mengumpulkan buku-buku yang berisi peta kota dan wilayah. Untuk memperoleh buku kuno, ia berburu sampai ke pasar-pasar loak, kios-kios buku, gerobak dorong, bahkan gudang-gudang atau lapak-lapak kertas di berbagai tempat. "Kalau berkunjung ke kota tertentu, selalu saya sempatkan untuk hunting buku lama di tempat-tempat seperti itu," paparnya. Demi mendapatkan buku, selain dengan cara hunting, ia juga menggunakan cara barter. Hidayat bersedia menukar buku-buku yang diingininya dengan koleksi buku yang ia miliki ataupun dengan benda-benda lain, seperti kain etnik atau batu-batuan. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, ia tidak segan-segan menukarkan buku yang ia inginkan dengan sebagian honornya yang didapat dari jasa pemandu wisata bagi wisatawan mancanegara, mencarikan referensi, atau jasa memperbaiki draft penulisan.
Kebiasaan bergelut dengan buku, merawat buku, sudah ia lakukan sejak di bangku sekolah dasar (SD). Sedangkan keseriusannya mengamati komponen buku, mengimajinasikan proses penulisan dan penerbitannya, dilakukan sejak duduk di bangku perkuliahan. Akhirnya, baru lima tahun terakhir ini, ia berhasil mengumpulkan buku-buku dan mengategorikan buku tersebut dalam tiga jenis pengelompokan berbeda, yaitu buku untuk dibaca sehari-hari, buku yang akan dijual lagi, buku untuk stok barter dengan buku lain, dan kelompok buku yang sengaja dikoleksi.
Menengok minatnya yang besar terhadap bacaan, wartawan cyberMQ, Aburashif, berkesempatan mewawancarainya, disela-sela kesibukannya sebagai kurator peta kota dan wilayah, baru-baru ini. Di "Kios Buku Tanah Air Klik" Pasar Suci Bandung, yang dikelola berdua bersama adik kandungnya, Hidayat mengemukakan berbagai kiat-kiat khusus seputar metode pemotivasian terhadap anak-anak dan remaja, agar mereka akrab dengan bacaan. Berikut petikan wawancaranya :
Bagaimana caranya merangsang anak usia dini agar menyukai bacaan, Mas Dayat ?
Pada usia 7 tahun, kira-kira usia SD kelas 1, anak Indonesia mulai belajar abjad, huruf , lalu membaca. Umur 7 tahun dianggap tepat untuk mengenalkan abjad dan mulai membaca. Itu cukup mubadzir, sebenarnya. Karena kegiatan tersebut bisa dimulai pada umur 4 atau 5 tahun. Rata-rata mulai bisa bicara itu usia 1 tahun setengah. Maka, ketika 4 tahun, ia bisa dikenalkan dengan abjad seiring dengan pengenalan benda. Bisa kita ikuti kebiasaan orang eropa barat dan Amerika yang menjelang tidur selalu membacakan cerita untuk anak-anak. Awalnya secara verbal. Seiring keterbatasan bahan cerita yang bisa diingat oleh orangtua, maka mulailah mengambil referensi dongengan dari buku. Pada umur 2 sampai tiga tahun, anak-anak sudah mulai mengenali buku secara wujud, meskipun mungkin belum bisa membaca. Dengan dibacakan cerita oleh orang yang lebih dewasa, dia akan mendengarkan. Imajinasinya juga berkembang. Setidaknya dia akan mengetahui, bahwa dalam buku yang dibacakan orangtuanya itu ada sesuatu yang menarik.
Tahapan apa yang mesti diketahui betul oleh para orangtua, pendidik, atau siapa saja yang hendak menanamkan minat seorang anak untuk membaca ?
Saya punya pengalaman mengelola perpustakaan di Yogya. Anak usia 4 tahun sangat senang dengan buku yang banyak gambarnya. Ketertarikan mereka terhadap bacaan diawali dari ketertarikan terhadap visual. Sebelum bisa membaca atau mengenal abjadpun, anak-anak sering memperagakan permainan, serta meniru hal-hal yang riil. Mereka main rumah-rumahan, sekolah-sekolahan, dokter-dokteran, antar sesama anak kecil seumurnya. Selain dari pengalaman juga pengamatan sehari-hari, rujukan mereka adalah pada bacaan yang dilengkapi dengan gambar atau visual menarik. Pada saat mereka sudah mengenal abjad, sudah bisa membaca, barulah kita, orangtua, atau orang yang lebih dewasa yang mendampinginya bisa melakukan pengarahan secara spesifik. Nanti terlihat minat sebenarnya, senangnya mainan apa, senang bertanya tentang apa. Karakter per orangnya sudah mulai bisa dilihat. Pada tahap itulah mereka mulai diarahkan pada jenis-jenis bacaan tertentu. Ada yang seri sains, berkebun, atau dongeng-dongeng bermutu yang mengandung pelajaran moral.
Seberapa pentingkah bentuk visual sebuah buku berpengaruh terhadap minat baca seorang anak ?
Kebutuhan bacaan yang sarat visualnya sangat penting sebagai "bacaan awal" bagi anak-anak. Sayangnya unsur visual itu belum begitu diperhatikan dalam penggarapan buku-buku acuan di sekolah-sekolah dasar.
Apa yang menyebabkan anak-anak sampai usia 12 tahun kurang menggemari bacaan ?
Pertama, lingkungan bacaan di rumah. biasanya orangtua yang kurang mengarahkan, kurang memikirkan ketersediaan bacaan. Saya ingat ketika SD, setiap orangtua pulang membawa bungkusan plastik, saya selalu berharap bungkusan itu berisi buku cerita anak-anak seri binatang. Asyik sekali. Kami biasanya menyelesaikan dulu tugas PR atau bersih-bersih rumah. Jika sudah selesai semua tugas saya, ketika orangtua tidur siang sampai sore, saya mulai membaca bergantian dengan saudara-saudara yang lain.
Kedua, lingkungan bacaan sekolah. Saya kira hanya sedikit waktu untuk mengembangkan minat baca anak-anak kita. Karena, sebagian besar waktu di sekolah tersedot oleh begitu banyak ragamnya mata pelajaran. Waktu istirahat dua kali. Paling kesempatan meminjam dan menukar buku di perpustakaan tidak bisa setiap hari. Istirahat saja terbatas waktunya sekitar 15 menit, sebagian besar dipakai tugas-tugas sekolah atau jajan. Anak-anak sulit mendapatkan kesempatan untuk membaca dengan tenang.
Mas Dayat punya kiat khusus agar remaja yang semula tidak memiliki minat baca bisa tertarik pada bacaan ?
Bagi remaja awal yang terbatas minat bacanya, kita mesti tahu dulu isyu apa yang paling dia minati. Ada tipe remaja yag mengidolakan public figure dari kelompok musik, kalau ada biografi pemusik remaja, biarkan mereka betah membacanya. Jika senang olahraga, jika mau ditarik ke bacaan maka sodorkan bacaan yang berkaitan dengan olahraga yang sering dilakukan atau ia berminat untuk menontonnya. Kalau sudah bisa betah 1 jam 1 hari membaca isu yang dia senangi, taruhlah dalam waktu 1 bulan dia rata-rata membaca selama 1 jam per hari, itu sudah menjadi awal yang bagus. Lalu perluas perspektif mereka. Yang suka olahraga, kenalkan dengan isu doping, narkoba, lalu kaitkan dengan isu kesehatan pada tubuh. Kalau mereka berminat pada musik, ingin jadi artis, buat perspektif bahwa untuk populer itu ada agennya, ada proses kontraknya.
First book foundation pernah memiliki database banyak orang, tentang apa buku pertama yang sangat berkenan dan membuka cakrawala seseorang di waktu mudanya. Bisa dicoba. Salah satu metode yang cocok untuk membangkitkan minat baca adalah dengan memberikan hadiah buku yang tepat sesuai minat.
Mas Dayat memiliki banyak koleksi bacaan. Apa yang merangsang Mas Dayat untuk membaca atau mengoleksi suatu bacaan ?
Hal yang harus diperhatikan, ada orang yang senang membaca karena sudah kebutuhan dia. Kebutuhan itu pun sebagai alat bukan tujuan, karena mungkin di orang tertentu selain senang membaca, dia juga tipe orang yang suka menulis. Bagi yang senang membaca saja, adakalanya ia akan mengambil jarak dari bacaan itu. Tidak sepenuhnya dia menerima bahwa apa yang ada di buku itu adalah benar, dia bisa memberikan kritik. Itu tahap lanjutan. Bagi orang yang senang menulis, maka kepemilikan berbagai buku berguna sebagai referensi. Saya membaca dan mengoleksi suatu buku karena saya mengerti bahwa buku tersebut luar biasa proses penulisan, pencetakan, dan penerbitannya. Bagi saya pribadi buku jenis itu yang sering saya kumpulkan.(red/aea)
|
cyberndut
assalamualaikum..sy ingin memperkenalkan kepada teman semua berbagai situs bisnis online yang mungkin bs jd referensi bagi teman semua.....klik ya.... ,muh handry wahyudi, |
|
survey dapet dollar....
pengen survey dapat dollar??? silahkan join di http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=cyberndut ato baca aja di http://www.cyberndut.cybermq.com/ ,muh handry wahyudi, |
|
SITUS SURVEY YANG BAIK
pengen survey dapat dollar??? silahkan join di http://www.AWSurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=cyberndut ato baca aja di http://www.cyberndut.cybermq.com/,muh handry wahyudi,081354317089 |
|
BISNIS ALA ROBERT T. KIYOSAKI
"SEMUA BERPELUANG MENGGAPAI PUNCAK KESUKSESAN" itulah perbedaan kami dengan korporat tradisional, mari bergabung,..,Herman Batari,6281344332233 |
|
PELUANG BISNIS "Lebih Cepat Lebih Baik"
Sabuah jaringan bisnis investasi spektakuler, telah mendapat penghargaan presiden RI, segera bergabung,..,Herman Batari,6281344332233 |
| Pasang Iklan Disini |