Jika anda termasuk orang yang cukup beruntung, cobalah untuk mengarahkan saluran televisi anda ke Sundance Channel. Pada Jum'at, 18 februari nanti, di Sundance Channel akan diputar tiga buah masterpiece dari tiga orang sutradara Muslim, yaitu : "Osama" karya sutradara Afghanistan Siddiq Barmak, "Our Father" atau "Abouna" sebuah film dari Chad karya Mahamat-Saleh Haroun, dan juga film "Marathon" karya Amir Naderi, salah seorang sutradara kawakan kelahiran Iran.
Adalah sesuatu hal yang menarik jika tiga film ini masuk dalam daftar screening di Sundance Channel. Seperti yang sudah diketahui bersama, Sundance Channel ini identik dengan Sundance Institute, sebuah lembaga yang didirikan oleh Robert Redford pada tahun 1981 di Utah, Amerika Serikat. Lembaga ini didedikasikan untuk para sineas independen yang berkarya diluar Hollywood. Sekarang ini, Sundance Institute dengan Sundance Film Festival-nya yang digelar setiap bulan Januari di kota Utah, telah menjadi barometer utama perfilman independen di seluruh dunia.
Ketiga film dari sutradara muslim itu tergolong dalam genre Feature. Mengangkat tema tentang manusia, kehidupannya serta segala permasalahan yang dihadapi. "Osama" menceritakan perjuangan tiga wanita untuk bertahan hidup dalam masa pemerintahan rezim Taliban, misteri kehidupan, cinta, dan kematian menjadi tema utama dalam film "Our Father", dan arti sebuah kemenangan menjadi tema utama dalam "Marathon". Ketiga film itu secara cerdas menyentil kehidupan kita sehari-hari, sesuatu yang berada dibalik layar suatu peristiwa, juga hal-hal kecil yang terkadang kita kurang memperhatikannya.
Osama
Film Osama ber-setting masa awal pemerintahan rezim Taliban, pada akhir perang Afghan tahun 2001. Pada masa itu Taliban memberlakukan hukum Islam yang keras dan cukup ketat. Diantaranya adalah adanya larangan bagi wanita untuk keluar rumah tanpa didampingi suami atau muhrimnya. Dari sinilah masalah bergulir.
Tersebutlah tiga wanita Afghan yaitu Marina, ibu serta neneknya yang hidup tanpa didampingi pria seorangpun. Kehidupan menjadi sulit karena tidak ada satupun dari mereka yang bisa keluar rumah untuk mencari nafkah. Akhirnya Marina harus menyamar sebagai anak laki-laki agar dapat bekerja pada sebuah toko susu milik sahabat ibunya.
Namun masalah muncul ketika oleh taliban semua anak laki-laki diwajibkan untuk bersekolah di madrasah. Disini identitasnya beberapa kali nyaris terungkap. Seperti ketika ia harus memanjat pohon dan takut untuk turun, saat itulah seorang teman datang dan membantu. Dari teman itulah nama samaran Osama muncul, sebuah nama yang diharapkan akan memancing rasa segan teman-teman sebayanya.
Suatu saat kebohongannya terungkap, Osama tidak dapat mengelak ketika ia mendapat haid pertama di sekolah. Karena itu, ia kemudian ditangkap serta dibawa ke pengadilan.
Our Father
Our Father bercerita tentang dua bersaudara Tahir dan Amine yang ditinggalkan oleh ayah mereka pada suatu pagi. Mereka tidak tahu apa yang menjadi alasan kepergian Ayah mereka. Padahal pada hari itu ayah mereka akan menjadi wasit pada pertandingan sepakbola anak-anak antar tetangga. Kemudia mereka berdua pergi untuk mencari ayah mereka ke seluruh penjuru kota. Setelah mencari ketempat-tempat yang biasa ayah mereka kunjungi, mereka akhirnya kecewa karena ayah mereka tak juga mereka temukan. Alih-alih bersekolah mereka lebih memilih meneruskan mencari ayah mereka sepanjang hari itu. Pengembaraan mereka akhirnya membawa mereka ke sebuah arena layar tancap, dan saat itulah mereka mengira menemukan ayah mereka dalam film yang sedang diputar, hingga membuat mereka nekat mencuri film tersebut. Singkat kata mereka kemudian ditangkap dan dikirimkan ke sebuah pesantren oleh ibu mereka.
Marathon
Film ini berkisah tentang Grechen (Sara Paul) yang terobsesi untuk memecahkan rekor bagi dirinya sendiri untuk menyelesaikan 77 teka-teki silang dalam 24 jam. Uniknya ia justru dapat berkonsentrasi ketika ia dalam kerumunan manusia dan suara riuh. Oleh karena itulah ia memilih untuk mengerjakan teka-teki silangnya selagi menumpang bis atau kereta bawah tanah New York. Film ini sangat sepi bahkan minimalis. Film ini merupakan karya Amir Naderi yang menangkap kota New York dari satu sudut pandang yang berbeda, serta arti kata "kemenangan" yang berbeda bagi tiap-tiap orang.
Melihat serta membandingkan tiga karya tersebut antara karya dan orang yang membuatnya, ada satu tanda tanya besar dan membuat saya teringat kembali pada diskusi saat Jiffest Goes To Pesantren tahun 2004 lalu. Pertanyaan itu adalah : "Apakah film dakwah itu?" Sulit mencari definisi yang paling tepat pertanyaan itu. Apakah film yang menampilkan simbol-simbol keislaman seperti yang dimunculkan dari figur para mulah dan prajurit Taliban yang bersurban dalam Osama ? Atau film yang bebas, yang universal tanpa simbol-simbol keislaman namun didalamnya terkandung nilai-nilai moral universal. Bisa jadi nilai-nilai moral kehidupan ini yang coba diangkat oleh dua sutradara terakhir yaitu Mahamat-Saleh Haroun dan Ahmad Saderi. Nilai-nilai tentang misteri dari kehidupan berupa kematian dan cinta serta arti kemenangan bagi seseorang menjadi semacam penyadaran bagi kita... orang-orang yang saat ini sedang sibuk dalam dunianya masing-masing.
Mungkin kita akan tertawa atau mungkin kesal akan tingkah seorang gadis yang seharian bertualang di jalan-jalan kota New York hanya karena ingin memecahkan record yang berarti buat dirinya sendiri... mengerjakan 77 teka-teki silang! Namun bisa jadi disisi yang lain kita menjadi tersadar bahwa kita sedang disindir. Ya. Tanpa sadar kita melakukan hal yang tak kalah konyolnya seperti ngebut di jalan raya, padahal kita tidak sedang bertanding dengan siapapun. Disini kita memperoleh semacam kesadaran oleh film-film yang bahkan tidak memunculkan atribut atau simbol-simbol keislaman. Justru, malah Osama yang sarat dengan simbol-simbol itu terkesan mendiskreditkan Islam. Osama malah membuat "sindiran" akan aturan berkedok Islam yang diterapkan secara tidak bijaksana dan kaku.
Kemudian kita kembali ke pertanyaan, "Apa film dakwah itu?" Dari sekelumit uraian diatas kita dapat mencoba menarik suatu kesimpulan, bahwa film dakwah ataupun dakwah melalui film tidak melulu harus menonjolkan atribut ataupun simbol-simbol keislaman secara wujud. Namun bisa juga disampaikan melalui kebenaran universal, sebab ia lebih berdampak langsung pada kesadaran orang yang menontonnya, sehingga mampu mengambil hikmah dari film tersebut.(red/cheung)
*Penulis berprofesi sebagai desainer grafis. Aktif dalam klub psikoanalisa Toko Buku Kecil, Bandung. Peminat film-film independen
|
Tas,Dompet. (Home Industri)
Menerima Pesanan dan makloon; Tas,Dompet.Dll.Tinggal Hubungi Aja.Atau SMS 022.77888079 ,wandy, |
|
Facebook kembali berbagi $$ ayo klik
Facebook kembali mengeluarkan aplikasi survey dan bagi sahabat sahabat yang join ikut menyukainya akan mendapatkan Dollar gratis cukup menjadi penggemar saja,Sani Muhmad Ramdan,08180214081 |
|
Mari Belajar Investasi
belajar berinvestasi bersama bossyana, klik di link bossyana on the web ya, ditunggu :),Dadan Rusmawan,085624555391 |
|
Sambil Ngabuburit Cari Jodoh Yuk
Ayo gabung disini tempat berbagi ilmu,motivasi dan solusi serta diskusi seputar pernikahaan,Sani Muhmad Ramdan,081802114081 |
|
T-SHIRT MENYAMPAIKAN FULL COLOR
Tujuan: Kaos ayahara.cybermq.com BERDAKWAH TANPA CERAMAH, "Menyampaikan Walau Satu Ayat" DESAIN: TAARUF, RAMADHAN, AKHIRAT LEBIH BAIK DARI DUNIA FANA, DSB,Mr Anas Ayahara,021 993 67 327 |
| Pasang Iklan Disini |