Sedikit sekali kiprah muslimah diangkat sebagai bahasan dalam media internasional, terutama media barat. Sebaliknya, kisah Muslimah yang terpaksa menjadi pelacur demi menebus cemar keluarga di Iraq, atau Muslimah yang ditindas rejim Taliban seolah-olah mengaburkan kisah sebenarnya tentang geliat dinamika muslimah di berbagai negara seluruh dunia.
Padahal, kemajuan muslimah sudah bermula sejak zaman Rasulullah s.a.w. Kemajuan itu salah satunya terjadi di masa kini, dipaparkan dalam perencanaan Lembaga Pendidikan, Sains dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unesco), khususnya dalam laporan bidang perencanaannya.
Kebangkitan besar Muslimah telah disuarakan dalam Kongres Internasional Muslimah bertajuk Sains Ke Arah Masa Depan Lebih Baik di Maghribi pada tahun 2000. Ketika itu, laporan Unesco mengenai Muslimah banyak dirujuk. Terbukti Muslimah berjaya dalam bidang sains dengan menjadi pemimpin jurusan mereka, menerima anugerah, mencatatkan paten penemuan dan memberikan sumbangan kepada keilmuan sejagat. Sayang sekali, hal ini kurang menjadi opini dan tajuk dalam berbagai media cetak maupun elektronik internasional.
Amerika Serikat, dibandingkan enam negara Islam, boleh dikatakan kalah unggul dalam urusan mencetak kalangan wanita yang ahli dibidang sains. Negara Islam yang unggul dalam soal mencetak sarjana-sarjana sains berkualitas itu diantaranya : Bahrain, Brunei, Kyrgyzstan, Lebanon, Qatar dan Turki. Maghribipun mengalahkan Amerika dalam jumlah ahli dibidang penelitian sains. Salah seorang sarjana muslimah itu adalah Rehab Eman, seorang muslimah muda yang ahli dibidang sains yang terkenal dengan disertasi mengenai Baitulmaqdis.
***
Tak ada nash dalam Qur’an maupun hadist yang mencegah wanita menuntut ilmu dan memberi sumbangan pemikiran bagi negara. Bahkan, Islam ialah agama pertama yang mendorong wanita menjadi srikandi dalam semua lapangan pekerjaan. Jadi, apa yang berlaku di negara mayoritas Islam, di mana nasib wanita tampak tertinggal dan jumud, semata-mata merupakan akibat kebijakan pemerintah atau kekejian suatu kaum. Tak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan ajaran Islam.
Perlu dipahami bahwa masalah utama ummah, terutama muslimah, adalah problem kemiskinan. Kemiskinan menghalangi para muslimah untuk menyelesaikan sekolah rendah, mengakibatkan kejadian buta huruf yang tinggi. Malangnya, kalangan pengkritik Islam cenderung membuat kaitan antara kemiskinan dengan Islam.
Mayoritas negara Islam mempunyai banyak rakyat miskin. Hal ini ikut membawa kendala bagi kemajuan ummah di waktu-waktu mendatang. Oleh karena itu, sistem pemerintahan negara-negara Islam tampaknya perlu di-up-grading, terutama dalam mengatasi ketertinggalan secara ekonomi. Seperti nyata tergambar di beberapa belahan dunia, beberapa negara mayoritas muslimpun mengalami instabilitas, akibat perang yang berkepanjangan. Ini juga perlu dipikirkan, mengingat kerusakan parah dan kemiskinan umat itu jelas menyulitkan para muslimah mencapai jenjang pendidikan mumpuni.
Rancangan pembangunan negara Islam selama ini sering tersasar, manakala bantuan agensi dunia seperti Bank Dunia dan IMF hanya mengakibatkan negara yang dibantu malam lebih terbebani, lebih banyak hutang, seperti dalam kasus Indonesia.
Menurut John Perkins, mantan ketua pakar ekonomi firma Chas. T. Main, yang membujuk negara-negara Dunia Ketiga agar berhutang, bebanan hutang Bank Dunia dan IMF merupakan cara Amerika menguasai jagat (www.johnperkins.org). Tidak tepat juga bahwa hanya negara Islam yang mengamalkan perbedaan gender. Data Unesco menunjukkan 44 dari 100 wanita Switzerland, yang dianggap negara impian, berhasil masuk perguruan tinggi. Padahal, di Malaysia dan Tunisia, 55 dari 100 wanita berhasil menduduki kursi perguruan tinggi.
Andai pendidikan dianggap ciri utama liberalisasi, apakah wanita Bahrain, Malaysia dan Tunisia lebih liberal daripada wanita Amerika? Sebaliknya, menurut Pemantau Hak Asasi, negara sekuler seperti Perancis dan Turki melarang wanita ke pendidikan tinggi dengan alasan bahwa mereka mengenakan jilbab bertudung. Lantas, mana semangat revolusi Prancis yang konon menghargai persamaan itu ?
***
Media cetak maupun media elektronik yang dikelola oleh para jurnalis muslim seharusnya memberi fokus yang sewajarnya terhadap pencapaian kaum Hawa dalam pelbagai bidang ilmu, demi mencorakkan ´wajah ummah dan Islam´ yang adil dan beradab. Sewajarnya juga, pandangan media internasional ( yang didominasi oleh media barat) terhadap muslimah ´dihapuskan´ atau ´diserang´ dengan kebijaksanaan akal dan kemanfaatan ilmu yang dimiliki oleh setiap potensi muslimah itu sendiri.
|
unek unek cyberndut
pengen dpetin buku gratis,tp gak tw caranya....:( coba aja dengan cara ini......kunjungi blog www.unekcyberndut.blogspot.com,muh handry wahyudi, |
|
Investasi Mudah Tanpa Cari Downline
Di Prima-Syariah.com mendapatkan Pasive Income Senilai Rp.1.180.000,- Secara gampang dalam jangka waktu kurang dari 1 Bulan, hanya dengan Modal Rp.200.000,-,Sani Muhmad Ramdan, |
|
bisnis keagenan pulsa DBS
pengen punya usaha sendiri???coba deh kunjungi situs ini siapa tau aja cocok....http://www.aktivasidbs.com/?id=handry,muh handry wahyudi,081354317089 |
|
Bisnis Online Pemula
Mau Belajar Bisnis Online dan Punya Web Site dengan Domain Murah dan Hosting Gratis Komisi 100% Plus Autoresponder yang Gratis?? Dapatkan Panduanya disini ,Sani Muhmad Ramdan,02291897338 |
|
unek unek cyberndut
kunjungi blogku ya........,muh handry wahyudi, |
| Pasang Iklan Disini |