<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss"
	>
<channel>
<title>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ | Kolom</title>
<atom:link href="http://www.cybermq.com/kolom/rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
<link>http://www.cybermq.com/kolom/rss</link>
<description>[25 Kolom terbaru Moslem Society of Indonesia-CyberMQ]</description>
<copyright>Copyright by ! - All rights reserved.</copyright>
<language>id</language>

			<item>
			  <title>Lidah adalah Amanah</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/573/lidah-adalah-amanah</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/573/lidah-adalah-amanah</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/573/lidah-adalah-amanah</guid>
			  <description>Rasulullah adalah figur teladan yang sangat menjaga kata-katanya. Beliau berbicara, beruap, berdialog, juga berkhutbah di hadapan jamaah dengan akhlak. Demikian tinggi akhlak beliau hingga disebutkan bahwa kualitas akhlak beliau adalah Al-Quran. Mulut manusia itu seperti moncong teko. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. Kalau ingin tahu isi teko,  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. &quot;Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang benar.&quot; (QS Al-Ahzab:70). Sementara itu, Rasulullah saw bersabda, &quot;Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam&quot;. (HR Bukhari-Muslim).<br />
<br />
Rasulullah adalah figur teladan yang sangat menjaga kata-katanya. Beliau berbicara, beruap, berdialog, juga berkhutbah di hadapan jamaah dengan akhlak. Demikian tinggi akhlak beliau hingga disebutkan bahwa kualitas akhlak beliau adalah Al-Quran. Mulut manusia itu seperti moncong teko. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. Kalau ingin tahu isi teko, cukup lihat dari apa yang keluar dari moncong itu. Begitu pun jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang, lihat saja dari apa yang sering dikeluarkan oleh mulutnya.<br />
<br />
Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara. Namun, sekalinya berbicara, isi pembicaraannya bisa dipastikan kebenarannya. Bobot ucapan Rasulullah sangat tinggi, seolah tiap kata yang terucap adalah butir-butir mutiara yang cemerlang. Indah, berharga, bermutu, dan monumental. Ucapan Rasulullah saw menembus hati, menggugah kesadaran, menghujam dalam jiwa, dan mengubah perilaku orang (atas izin Allah). Bukan saja karena lisan Rasulullah dibimbing Allah dan posisinya sebagai penyampai wahyu, di mana ucapan-ucapan darinya menjadi dasar hukum. Lebih dari itu, Rasulullah sejak kecil sudah dikenal sebagai Al-Amin, tidak pernah berkata dusta walau sekali saja. Investasi moral ini tentu sangat mempengaruhi kualitas ucapannya.<br />
<br />
Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya.<br />
<br />
Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat.<br />
<br />
Ketika disodorkan padanya keluhan tentang krisis, dengan tangkas dia menjawab, &quot;Krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis, siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!&quot; Siapa saja yang biasa berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya Allah dia adalah manusia yang berkualitas.<br />
<br />
Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah selalu sibuk menceritakan peristiwa. Melihat ada kereta api terguling, dia berkomentar ribut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu seorang artis, terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya ada apa saja dikomentari. Dia seperti juru bicara yang wajib berkomentar kapan pun ada peristiwa. Tidak peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak.<br />
<br />
Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang: &quot;Pokoknya bunyi!&quot; Tidak ada masalah dengan peristiwa. Jika melalui itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat. Namun, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan.<br />
<br />
Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. &quot;Aduuuh ini pinggang, kenapa jadi sakit begini. Hari ini kayak-nya banyak masalah, nih!&quot; Ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannya segera berhamburan. &quot;Makanan kok dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih nikmat. Aduuuh, kerupuk ini, kenapa kecil-kecil begini?&quot; Terus saja makanan dikeluhkan, walau kenyataannya semua akhirnya habis juga.<br />
<br />
Mengeluh dan mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. &quot;Ohh, hujan melulu, di mana-mana becek. Jemuran nggak kering-kering.&quot; Ketika di jalanan macet, mengeluh. Ketika ada lampu merah, mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh. Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Dan seterusnya. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara oleh keluh-kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah. Seluruh lembar hidupnya dimaknai sebagai kesusahan, sehingga layak dikeluhkan.<br />
<br />
Keempat, orang yang dangkal. Adalah mereka yang semua pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya, kebaikan-kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian untuk Allah. Mengapa harus kita membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita?<br />
<br />
Ada orang pakai cincin segera berkomentar, &quot;Oh, itu sih mirip cincin saya.&quot; Ada orang beli mobil baru, &quot;Nah, ini seperti yang di garasi saya itu.&quot; Ada kucing berbulu tebal melompat, &quot;Kucing ini gondrong. Oh yaa, kucing gondrong itu mirip singa. Hai, tau nggak? Saya sudah pernah ke Singapura, lho. Hebat sekali kota Singapura. Hanya orang yang hebat saja bisa pergi ke sana.&quot; Orang-orang dangkal ini akan terus berbicara tiada henti. Tak lupa dia selalu menyelipkan kata-kata kesombongan dan membanggakan diri.<br />
<br />
Orang-orang dangkal tiada bosan mengekspose diri, menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu akan segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus. Kita harus berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh dalam apa-apa yang Allah larang.<br />
<br />
Dalam berbicara kita jangan bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang mungkin dianggap mengasyikkan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja, apalagi dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar.<br />
<br />
&quot;Dan janganlah kalian ber-ghibah (bergunjing) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka salah-seorang dari kalian makan daging bangkai saudaranya? Maka, kalian tentu akan sangat jijik kepadanya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat.&quot; (QS Al-Hujurat:12).<br />
<br />
Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menyikapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruk adalah banyak berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja kita produktif berbicara, tapi harus proporsional. Jika kita berbicara hal yang benar dan memang harus banyak, tentu kita lakukan hal itu. Pembicaraan seringkali bergeser dari rel kebaikan ketika kita tidak proporsional.<br />
<br />
Semua orang harus menjaga lidahnya. Tidak peduli apakah itu orang-orang yang dianggap ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca Al-Quran atau hadis, tidak otomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata kita semakin meningkat.<br />
<br />
Alangkah ironi jika orang-orang yang ahli agama, namun tidak menjaga lisan. Dia banyak menasihati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. Jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tak mengenai tata krama, orang masih maklum. Namun, jika orang-orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius.<br />
<br />
Satu langkah konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja!<br />
<br />
Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadikan ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridhaan Allah. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-Nya.<br />
<br />
Semoga Allah SWT membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapa pun yang mendengarkannya. Amin. Wallahu a`lam bishshawab. <br />
<br />
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Mengenal Alergi pada Anak</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/572/mengenal-alergi-pada-anak</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/572/mengenal-alergi-pada-anak</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/572/mengenal-alergi-pada-anak</guid>
			  <description>Pada usia empat bulan, Tania (1,1 tahun) mulai mengalami gangguan. Saat itu, air susu Dita, sang ibu, berkurang sehingga diputuskan memberikan susu sapi. Namun, sepekan setelah pemberian susu tersebut, mendadak bermunculan semacam ruam di kulit, .... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Pada usia empat bulan, Tania (1,1 tahun) mulai mengalami gangguan. 
Saat itu, air susu Dita, sang ibu, berkurang sehingga diputuskan 
memberikan susu sapi. Namun, sepekan setelah pemberian susu tersebut, 
mendadak bermunculan semacam ruam di kulit, terutama di muka bayi.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Semakin
hari, ruam bertambah banyak. Di kaki dan tangannya juga muncul 
bintik-bintik. Bayi rupanya merasa terganggu dan kerap rewel.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
&rdquo;Setelah
diperiksa, menurut dokter, bayi saya alergi susu sapi dan disarankan 
mengganti susu dengan jenis hipoalergenik,&rdquo; ujarnya. Sedangkan gangguan 
kulit di tangan dan kaki ternyata akibat alergi panas. &rdquo;Bayi biasanya 
dijemur untuk mendapatkan sinar matahari untuk pertumbuhan. Tania justru
alergi dan sejak itu tak pernah dijemur lagi,&rdquo; ujar Dita, warga 
Jakarta. Putri pertama Dita, Amel (7), menderita alergi debu. Dita 
sendiri mempunyai alergi debu, bahkan belakangan menjadi asma. 
&rdquo;Sepertinya turunan dari saya. Nenek mereka atau ibu saya juga alergi 
debu,&rdquo; ujarnya. Keluarga itu memiliki dokter keluarga yang memahami 
rekam jejak kesehatan keluarga itu. &rdquo;Saya yakin alergi bisa ditangani,&rdquo; 
ujarnya.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Memasuki usia setahun, dokter menyarankan susu yang 
dikonsumsi Tania dicampur susu sapi biasa. Setelah ruam benar-benar 
tidak muncul lagi, susu hipoalergenik ditinggalkan total. Untuk alergi 
debu dan panas, Dita menjauhkan pemicu tersebut dari anak-anaknya.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
<strong>Kasus
makin banyak </strong>
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Alergi merupakan reaksi kekebalan tubuh 
yang menyimpang dari kondisi normal terhadap rangsangan atau zat dari 
luar tubuh dan bisa menimbulkan gejala yang merugikan tubuh. Gejala yang
sering, antara lain, muntah, diare berlanjut yang kadang disertai 
darah, dermatitis atopik, seperti bintik-bintik merah dan gatal, 
gangguan pernapasan berupa batuk berulang dan asma. Jika dibiarkan, 
alergi akan mengganggu tumbuh kembang anak dan bisa lebih berat, seperti
kena serangan asma.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Pada masa mendatang, jumlah anak-anak 
alergis, seperti Tania dan Amel, diprediksi semakin besar. Dokter anak 
dari Dr von Haunersches Kinderspital Ludwig-Maximilians University 
Munich, Sibylle Koletzko, mengatakan, ada peningkatan angka kejadian 
karena faktor genetik, lingkungan, dan imunologi (gangguan respons 
imun).
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Semakin berkembang sebuah negara dan penyakit infeksi 
berkurang justru membuat kasus alergi meningkat. Faktor genetik tidak 
banyak berubah sehingga diperkirakan ada faktor-faktor penyebab lain. 
Alergi masih menyimpan banyak misteri. Salah satu dugaan ialah sistem 
kekebalan tubuh tak siap menghadapi hal dari luar yang dianggap sebagai 
ancaman. Bahkan, ancaman paling lemah, seperti serbuk sari. Kebersihan 
yang makin baik membuat tubuh semakin sensitif.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Tren itu sudah 
lebih dahulu dialami negara-negara Eropa. Alergi pada anak di Eropa 
Tengah cenderung meningkat. Pada 1973, asma bronkial 4 persen dan 
menjadi 21 persen pada 1996. Pola alergi bisa berbeda-beda antarnegara.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Di
Indonesia, kasus alergi mulai tinggi. Zakiudin Munasir dari Divisi 
Alergi dan Imunologi Klinik Departemen Kesehatan Anak Fakultas 
Kedokteran Universitas Indonesia mencontohkan, di Jakarta, dermatitis 
atopik prevelansinya mencapai 24,6 persen.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Penyakit alergi hanya 
mengenai anak yang punya bakat alergi (atopik). Bakat alergi diturunkan 
salah seorang atau kedua orangtuanya. Sibylle mengatakan, risiko 
tertinggi, jika kedua orangtua dan satu saudara kandung menderita 
alergi&mdash;risikonya mencapai 85 persen. Faktor risiko lainnya ialah 
merokok, tidak mendapat ASI, polusi, dan diet.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Pada usia 0-6 bulan
dan 0-1 tahun biasanya alergi makanan dan eksim (kelainan kulit kronis)
dominan. Asma tinggi angka kejadiannya setelah usia tiga tahun dan 
puncaknya pada usia 7-15 tahun. Alergi rhinitis (hidung gatal dan 
ingusan) prevalensi tertinggi pada usia 15 tahun.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Zakiudin 
mengatakan, alergen ada berbagai jenis, mulai dari makanan, tungau, 
balsem, binatang, obat, sampai lebah. Salah satu yang kerap ditemui 
ialah alergi susu sapi. Dari data Divisi Alergi-Imunologi Departemen 
Ilmu Kesehatan Anak RSCM, alergi susu sapi pada anak 4 persen kasus 
alergi. Bahkan, dermatitis atopik (radang kulit) pada anak 30-45 persen 
disebabkan alergi susu sapi.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Sementara makanan yang sering 
menimbulkan alergi, antara lain, kacang, telur, ikan, dan udang. Uji 
kulit pada 69 anak asma alergi di Poli Alergi-Imunologi FKUI-RSCM 
menunjukkan, sekitar 45,31 persen alergi pada kepiting, 37 persen udang 
kecil, dan 26,56 persen pada cokelat. Bahan aditif, seperti bumbu, dan 
bahan sintetis, seperti pengawet (benzoat), penyedap, dan pewarna 
(tartrazine), juga rawan menimbulkan alergi.
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Menurut Sibylle, 
&rdquo;Terutama untuk alergi terhadap makanan. Diagnosis yang terlalu longgar 
atau berlebihan tidak baik. Jika terlalu longgar, anak akan 
terus-terusan menderita berbagai gangguan. Sebaliknya, diagnosis yang 
berlebihan akan membatasi konsumsi makanan anak sehingga mengganggu 
tumbuh kembangnya.&rdquo;
</p>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Satu-satunya cara mengatasi alergi pada anak 
ialah menghindari makanan atau pencetus alergi dengan tepat dan tidak 
mencoba-coba. Terkadang ada orangtua yang sengaja memberikan makanan 
pencetus alergi kepada anaknya dengan harapan agar tubuh anak semakin 
toleran dan tidak alergi lagi. Cara demikian dapat menjadi bumerang bagi
anak karena alergi yang terpicu bisa berbahaya. (<strong>INDIRA PERMANASARI/kompas.com)</strong>
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Tengkorak yang Banyak Bicara</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/571/tengkorak-yang-banyak-bicara</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/571/tengkorak-yang-banyak-bicara</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/571/tengkorak-yang-banyak-bicara</guid>
			  <description>Alkisah, ada seorang pengembara yang suka banyak bicara. Suatu hari, ia menempuh perjalanan yang mengharuskannya melewati sebuah hutan belantara yang jarang sekali diinjak manusia. [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"justify\">
Alkisah, ada seorang pengembara yang suka banyak bicara. Suatu hari, ia menempuh perjalanan yang mengharuskannya melewati sebuah hutan belantara yang jarang sekali diinjak manusia.<br />
<br />
Ketika sampai di tengah-tengah hutan, tiba-tiba terdengar suara orang berbicara.<br />
<br />
Pengembara itu merasa takut, tetapi juga penasaran. &quot;Suara siapakah itu, di tengah-tengah hutan yang sepi begini?&quot; bisiknya dalam hati. Lalu, dengan hati-hati ia mencari asal suara tadi. Akhirnya ia menemukan jawabannya. Suara tadi berasal dari tengkorak manusia yang ada di bawah pohon besar. Alangkah terkejutnya ia.<br />
<br />
Dengan rasa tidak percaya, ia memberanikan dirinya mendekat dan bertanya, &quot;Hai tengkorak. Bagaimana kamu bisa sampai di tengah-tengah hutan belantara ini?&quot;<br />
<br />
Di luar dugaan, si tengkorak itu bisa mendengar dan menjawab pertanyaannya. &quot;Hai pengembara! Yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara,&quot; jawab si tengkorak. Mengetahui tengkorak bisa mendengar dan berbicara, si pengembara pun jadi sangat terhibur dan terus mengobrol tentang segala hal yang menarik hatinya. Ia merasa menemukan pengalaman yang benar-benar aneh dan sangat menakjubkan.<br />
<br />
Saat keluar dari hutan, si pengembara terus teringat dengan kejadian aneh yang dialaminya. Dengan penuh semangat, ia berceritatentang tengkorak yang bisa bicara kepada setiap orang yang dijumpainya. Tentu saja,tidak ada seorang pun yang mau percaya. Malah ada yang mencemooh ceritanya. &quot;Dasar bodoh! Mana ada tengkorak yang bisa bicara!&quot;<br />
<br />
Namun, biarpun tidak ada yang mau percaya dengan ceritanya, pengembara itu tetap sajabercerita kepada banyak orang lainnya.<br />
<br />
Akhirnya, cerita tengkorak yang bisa berbicara itu pun terdengar sampai ke istana. Singkat cerita, baginda raja tertarik dan kemudian mengundang pengembara itu ke istana. Kembali, si pengembara menceritakan pengalamannya dengan bangga.<br />
<br />
&quot;Baginda, hamba bertemu tengkorak yang bisa bicara. Mungkin baginda bisa menanyakan tentang masa depan kerajaan ini kepada tengkorak itu,&quot; bujuk si pengembara. Karena rasa ingin tahu, raja pun mengajak para pengawalnya dan meminta si pengembara menunjukkan jalan ke hutan di mana tengkorak itu berada.<br />
<br />
Setibanya di sana,pengembara dengan begitu percaya diri langsung bertanya kepada si tengkorak. &quot;Hai tengkorak, bagaimana kamu bisa sampai di hutan ini?&quot;<br />
<br />
Kali ini, tengkorak itu diam membisu. Raja dan para pengawal tampak tidak sabar menunggu. Ketika pengembara itu mengulang pertanyaannya beberapa kali dengan suara lebih keras, tengkorak itu tetap diam membisu. Yang terdengar hanya desau angin dan gaung suara si pengembara.<br />
<br />
Melihat hal itu, para pengawal menatap raja dengan pandangan geli. Merasa telah diperdayai, sang raja menjadi murka. Ia memandang marah si pengembara. &quot;Sebenarnya aku tidak percaya omonganmu. Apakah kamu mengira bahwa aku ini raja yang bodoh? Sebenarnya, aku datang ke sini untuk membongkar kebohonganmu. Kamu harus dihukum atas hal ini!&quot;<br />
<br />
Sang raja pun langsung memerintahkan hukuman mati untuk si pengembara. Setelah itu, jenazah si pengembara ditinggalkan di sana. Kepalanya diletakkan di samping tengkorak tadi.<br />
<br />
Begitu raja dan para pengawalnya pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba si tengkorak bersuara. &quot;Hai Pengembara! Bagaimana kamu bisa sampai di hutan ini?&quot;<br />
<br />
Dan kepala si pengembara pun menjawab, &quot;Yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara.&quot;<br />
<br />
<strong>Teman-teman yang luar biasa!</strong><br />
<br />
Sering kali pertengkaran, kesalahpahaman, dan permusuhan besar muncul gara-gara omongan yang tidak pada tempatnya. Mereka yang suka mengumbar omongan, sering jadi kurang waspada sehingga mudah menyinggung, merendahkan, atau melecehkan orang lain. Sekilas, masalahseperti ini tampak sepele, tetapi akibatnya bisa fatal.<br />
<br />
Alangkah baik,apabila setiap saat kita bisa mengendalikan diri, tahu kapan dan mengapa harus berbicara. Bahkan terkadang bisa diam adalah sikap yang paling bijak, seperti pepatah dalam bahasa Inggris, &quot;Silent is golden. Diam adalah emas.&quot;<br />
<br />
Salam sukses, luar biasa! <br />
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Belajar Membaca: Bisa Karena Biasa</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/570/belajar-membaca:-bisa-karena-biasa</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/570/belajar-membaca:-bisa-karena-biasa</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/570/belajar-membaca:-bisa-karena-biasa</guid>
			  <description>Zaman dulu, anak 5 tahun bisa membaca adalah sesuatu yang langka. Orang tua juga jadi kecipratan bangga. Tapi saat ini, di mana dunia aksara sudah makin mewabah, akses terhadap bahan bacaan kian mudah, [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Tulisan ini saya dedikasikan buat teman-teman yang bertanya tentang Cara Mengajar Anak Membaca. Semoga bermanfaat<br />
<br />
Zaman dulu, anak 5 tahun bisa membaca adalah sesuatu yang langka. Orang tua juga jadi kecipratan bangga. Tapi saat ini, di mana dunia aksara sudah makin mewabah, akses terhadap bahan bacaan kian mudah, anak 3 tahun bisa membaca juga bukan lagi perkara langka. Persoalannya, bagaimana membuat anak-anak bisa membaca?<br />
<br />
Berdasarkan pengalaman saya, cara mengajar anak membaca sebenarnya tidak membutuhkan hal-hal yang baku, rumit, dan sangat terstruktur. Saya memang mengajar anak pertama dengan metode yang lumayan butuh pengorbanan, yaitu metode Glen Doman. Tiap malam sibuk bikin kartu baca. Tapi lucunya, untuk mengajari anak kedua, saya hanya pakai buku tulis biasa plus pensil/balpoin. Belajarnya hanya 5 menit sebelum tidur atau pas waktu senggang. Saya pun baru memulainya pada usia 4,5 tahun.<br />
<br />
Satu hal yang tidak berbeda antara kedua anak saya adalah, mereka sama-sama sangat suka membaca. Luqman, anak kedua, meskipun ia belum lancar baca tapi bisa bertahan lebih dari 30 menit untuk dibacakan buku. Bukan kami yang memintanya, melainkan dia sendiri yang memohon. Kadang-kadang bukan hanya orang tuanya atau kakaknya yang membacakan buku, siapa saja yang datang ke rumah, neneknya ataupun tantenya bisa saja di &lsquo;todong&rsquo; untuk membacakan dia buku. Kesimpulannya, anak-anak sangat akrab dengan buku.<br />
<br />
Semalam, saat saya mencicil buku To Kill a Mockingbird, saya menemukan kisah yang menarik. Diceritakan bahwa salah seorang tokoh bernama Scout, saat ia memasuki kelas satu SD telah lancar membaca koran, padahal teman-temannya yang lain baru akan diajari alfabet dan mengeja. Kemampuannya itu membuat gurunya sedikit kesal. Sang guru menyuruh Scout berkata pada ayahnya agar tidak mengajarinya lagi di rumah.<br />
<br />
Scout bingung. Ia pun berkata pada gurunya bahwa ayahnya tak pernah mengajarinya. Ayahnya terlalu sibuk. Jika pun ayahnya ada di rumah, ia malah sibuk membaca, sehingga tak sempat untuk mengajarinya membaca.<br />
<br />
Mendengar penjelasan muridnya itu, sang guru tidak percaya dan bersikukuh agar Scout menyampaikan pesan pada ayahnya agar berhenti mengajarinya di rumah. Sang guru yakin bahwa tidaklah mungkin seorang anak bisa membaca tanpa diajari siapapun.<br />
<br />
Rupanya, memang bukanlah belajar secara sengaja yang membuat Scout bisa membaca, melainkan karena ia selalu berada di dekat dan bahkan di pangkuan ayahnya saat sang ayah (yang seorang pengacara) membaca keras-keras koran, draft undang-undang, ataupun kitab hukum.<br />
<br />
Karena saking seringnya hal itu dilakukan. Scout kecil akhirnya bisa memecahkan rahasia kode-kode gabungan huruf tanpa ia sadari. Ia bisa membaca sebagaimana ia bisa mengancingkan baju. Semua tanpa proses yang terstruktur. Semua mengalir sebagai sebuah kebiasaan yang terus menerus.<br />
<br />
Nah, dari semua fakta tersebut, saya menyimpulkan bahwa, sesungguhnya BISA MEMBACA tak selalu merupakan hasil dari belajar secara terstruktur. Bisa saja hal itu adalah output dari gemar membaca.<br />
<br />
Kalau kita tidak menetapkan target kemampuan anak berdasarkan waktu atau usia mereka, maka cara ini adalah yang paling mudah, yaitu: Membacakan buku pada anak-anak setiap hari sampai mereka memiliki ketergantungan luar biasa pada buku. Lama kelamaan hal itu akan membuat mereka tergerak sendiri untuk belajar, entah dengan meminta bantuan kita ataupun belajar dengan sendirinya. Apakah Anda percaya?<br />
<br />
Betapa banyak anak yang digegas untuk bisa baca hanya karena syarat untuk masuk sekolah, tapi akhirnya tak suka membaca. Menurut saya, bisa membaca hanyalah alat, sedangkan SUKA MEMBACA adalah target utama. Supaya keduanya tercapai, maka mengakrabkan anak-anak dengan buku sedari kecil, itulah cara yang tepat. Tak perlu buku mahal, buku murah atau buku bekas pun bisa, asalkan isinya bermutu/Maya A Pujiati.<br />
<br />
<em>Sumber : Duniaparenting{dot}com</em>
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Kerang dan Mutiara</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/569/kerang-dan-mutiara</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/569/kerang-dan-mutiara</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/569/kerang-dan-mutiara</guid>
			  <description>Tak terasa sudah enam bulan, secara rutin (setiap Selasa pagi) saya mengisi acara talkshow Wisdom Success &amp; Motivation di Radio Sonora. Beragam tema sudah saya bawakan dan mendapat respon luar biasa dari para pendengar Sonora dan jaringannya di seluruh Indonesia. Banyaknya telepon dan SMS yang masuk selama acara live itu menunjukkan antusiasme pendengar merespon tema-tema yang saya bawakan, .... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"justify\">
<span style=\"border-collapse: separate; color: #000000; font-family: \'Times New Roman\'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px; font-size: medium\" class=\"Apple-style-span\"><span style=\"font-family: Verdana; font-size: 11px; line-height: 16px\" class=\"Apple-style-span\">Tak terasa sudah enam bulan, secara rutin (setiap Selasa pagi) saya mengisi acara talkshow Wisdom Success &amp; Motivation di Radio Sonora. Beragam tema sudah saya bawakan dan mendapat respon luar biasa dari para pendengar Sonora dan jaringannya di seluruh Indonesia. Banyaknya telepon dan SMS yang masuk selama acara live itu menunjukkan antusiasme pendengar merespon tema-tema yang saya bawakan, seperti yang terlihat pagi tadi.
<p>
Di pengujung bulan Juni ini, saya membawakan tema &quot;<strong>proses pematangan mental untuk sukses</strong>,&quot; yang diawali dengan cerita menarik:<span class=\"Apple-converted-space\">&nbsp;</span><strong>KERANG DAN MUTIARA</strong>. Tema ini mengajak kita semua untuk tidak mudah putus asa ketika menghadapi penderitaan yang dialami. Penderitaan seperti kegagalan, ketidakmampuan menghadapi suatu masalah, hinaan, cedera atau cacat fisik, dan sebagainya, bisa kita lihat dari kaca mata positif.
</p>
<p>
Dengan melihat dari sisi positif kita bisa mengatakan, &quot;<strong>Kegagalan adalah sukses yang tertunda</strong>.&quot; Kegagalan bukanlah penderitaan tetapi merupakan ujian untuk mempertebal mental kita. Karena itu, selalu ada harapan bagi orang yang berpikiran positif sehingga optimisme senantiasa menyertai mereka. Bagi orang optimis dan berpikiran positif, cacat fisik pun tak dianggapnya sebagai halangan untuk berbuat sesuatu. Mereka justru tertantang untuk membuktikan bahwa dengan cacat fisik itu bisa mengalahkan orang yang sempurna.
</p>
<p>
Pagi ini, ada dua orang penelepon yang dari segi fisik mereka menderita. Mereka berdua adalah tunanetra. Namun meski tak dikaruniai indera penglihatan hidup mereka dipenuhi rasa optimis. Mereka yakin di dalam dirinya ada butiran mutiara yang jika diasah terus-menerus tak hanya akan berkilau tetapi juga bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
</p>
<p>
Buktinya, seorang tunanetra di Medan (sang penelepon) bisa menjadi pengusaha yang mampu memproduksi suatu alat bantu penerang listrik sementara di rumah ketika aliran listrik PLN padam. Dalam pemikiran orang kebanyakan, sulit membayangkan seorang tunanetra bisa melakukan itu.
</p>
<p>
Karena itu,<span class=\"Apple-converted-space\">&nbsp;</span><strong>mari terus berpikiran positif dan tak perlu berputus asa ketika penderitaan menghampiri kita</strong>. Ibarat di sekolah, penderitaan itu adalah ujian kita untuk naik ke kelas lebih tinggi, yaitu naik kelas ke<u>kelompok orang-orang yang luar biasa</u>.
</p>
</span></span>
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Doa Seorang Ayah</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/568/doa-seorang-ayah</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/568/doa-seorang-ayah</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/568/doa-seorang-ayah</guid>
			  <description>Itu sepenggal puisi karya Jenderal Douglas MacArthur, seorang jenderal yang menjadi pahlawan Amerika Serikat pada Perang Dunia II. Tadi pagi pada talkshow di jaringan radio Sonora, saya membaca puisi tersebut secara utuh. Sungguh, sebuah puisi yang menyentuh. Meski sudah berusia lebih dari setengah abad, puisi itu tak lekang karena waktu. Puisi itu terus up-to-date sampai kini... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p>
Itu sepenggal puisi karya <strong>Jenderal Douglas MacArthur</strong>, 
seorang jenderal yang menjadi pahlawan Amerika Serikat pada Perang Dunia
II. Tadi pagi pada talkshow di jaringan radio Sonora, saya membaca 
puisi tersebut secara utuh. Sungguh, sebuah puisi yang menyentuh. Meski 
sudah berusia lebih dari setengah abad, puisi itu tak lekang karena 
waktu. Puisi itu terus <em>up-to-date</em> sampai kini karena menyentuh 
hakiki kehidupan manusia. Puisi tersebut ditulis seorang ayah untuk 
anaknya tercinta yang pada saat itu masih berusia 14 tahun.
</p>
<p>
Saya sengaja memenggal kutipan puisi itu pada bagian tersebut karena ada
makna mendalam soal tantangan kehidupan. Jika kita terbiasa berada 
dalam kehidupan yang mudah, kita akan tumbuh menjadi manusia yang lemah.
Namun sebaliknya, jika kita terbiasa dengan jalan kehidupan yang terjal
dan berliku, kita akan tumbuh menjadi manusia yang kuat, tegar, tahap 
uji, tak mudah menyerah, kreatif, dan sebagainya - karena sudah teruji 
dengan segala cobaan dan rintangan. 
</p>
<p>
<em><strong>Netter yang luar biasa!</strong></em>
</p>
<p>
Itulah yang diharapkan sang jenderal dari putranya. Ia berharap si anak 
mendapat hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan, karena melalui 
kesulitan itu anaknya akan teruji.
</p>
<p>
Itu sesuai pula dengan rangkaian kata-kata mutiara yang sering saya 
kemukakan: &quot;Kalau Anda lunak pada diri sendiri, kehidupan akan keras 
terhadap Anda. Namun, kalau Anda keras pada diri sendiri, maka kehidupan
akan lunak terhadap Anda.&quot;
</p>
<p>
Karena itu, kita patut bersyukur jika mendapat kehidupan yang sulit. Itu
artinya, kita mendapat kesempatan untuk mengasah diri agar menjadi 
manusia yang kaya mental. Orang yang kaya mental memiliki bekal yang 
kuat untuk sukses di masa depan. Dan itu tak cuma yang diharapkan 
Jenderal MacArcthur melalui puisinya tersebut, tetapi diharapkan pula 
oleh kita semua.
</p>
<p>
Bagaimana teman-teman? 
</p>
<p>
Salam sukses luar biasa!
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Kiat-kiat Membangun Kepercayaan</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/567/kiat-kiat-membangun-kepercayaan</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/567/kiat-kiat-membangun-kepercayaan</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/567/kiat-kiat-membangun-kepercayaan</guid>
			  <description>Sebelum Nabi Muhammad saw dikukuhkan menjadi seorang Rasul, beliau sudah sangat populer di tengah masyarakat Kota Mekah dengan gelar al-Amin. Yaitu orang yang sangat terpercaya (amanah/kredibel). Gelar ini baik sebelum maupun ..... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p class=\"hitam\" align=\"justify\">
<span>Sebelum Nabi Muhammad saw dikukuhkan
menjadi seorang Rasul, beliau sudah sangat populer di tengah masyarakat
Kota Mekah dengan gelar al-Amin. Yaitu orang yang sangat terpercaya 
(amanah/kredibel). Gelar ini baik sebelum maupun sesudahnya tidak pernah
ada lagi.</span> 
</p>
<p>
<span>Sungguh dahsyat pengaruh suatu 
kepercayaan dan luar biasa pentingnya untuk kesuksesan karir kehidupan 
di dunia maupun di akhirat. Jauh melampaui modal harta benda, kedudukan,
jabatan, atau ilmu sekali pun. Ketika kepercayaan sudah sirna di hati 
orang lain, sulit sekali untuk tumbuh, walaupun dengan berjuta janji 
atau membayar dengan harta sebanyak apa pun. Jika kepercayaan di hati 
orang sudah hilang maka perasaan yang muncul selalu mencurigai dan rasa 
tidak percaya diri akan selalu membayang dan membekas.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">Berikut
ini sekelumit uraian yang isya Allah akan menumbuhkan dan memperkuat 
kepercayaan seseorang.</span>
</p>
<p>
<span>A. Kejujuran yang terbukti dan 
teruji</span>
</p>
<p>
<span>Kejujuran adalah perilaku kunci yang
sangat efektif untuk membangun kepercayaan (kredibilitas), begitu pula 
bila sebaliknya dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Biasakanlah 
selalu jujur, dimulai dari hal yang paling sederhana dan kecil sekali 
pun. Walaupun terhadap anak kecil, karena sesungguhnya Allah menilai 
perilaku kita. Yakinlah tak akan pernah untung sama sekali dengan 
ketidakjujuran selain kerugian yang mendera dan menghancurkan. Sudah 
terlalu banyak bukti di sekitar kita untuk dijadikan pelajaran.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">1. 
Jangan sekali-kali berbohong atau terpancing untuk menambah omongan 
sehingga menjadi dusta walau dalam gurauan sekali pun.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">2. 
Jangan pernah mudah membuat janji, pastikan setiap janji yang diucapkan 
sudah diperhitungkan matang-matang, dan berusaha keraslah untuk memenuhi
janji.</span>
</p>
<p>
<span>3. Tepat waktulah dalam segala hal, 
jangan terlambat atau gemar menunda-nunda atau mengakhirkan.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">4. 
Biasakanlah memiliki data dan fakta yang jelas, dan bersikaplah terbuka.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">5. 
Milikilah kemampuan dan kesungguhan mengevaluasi diri, dan segera 
perbaiki diri begitu ditemukan kesalahan serta bertanggungjawablah 
dengan sungguh-sungguh dan tulus.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">6. Jangan pernah patah 
semangat bila didapati masa lalu kita pernah atau banyak ketidakjujuran.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">B. 
Cakap</span>
</p>
<p>
<span>Komponen kedua yang tak kalah 
pentingnya adalah kehandalan dan kecakapan kita dalam melaksanakan 
tugas. Walaupun sangat dikenal dan teruji kejujurannya tapi kalau dalam 
melaksanakan tugas sering berbuat lalai dan kesalahan maka hal ini pun 
akan merontokkan kredibilitas.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">1. Kunci utamanya adalah 
secara sadar kita harus selalu belajar, melatih diri, mengembangkan 
kemampuan, wawasan serta keterampilan kita secara sistematis dan 
berkesinambungan, sehingga selalu memiliki kesiapan yang memadai untuk 
melaksanakan tugas.</span>
</p>
<p>
<span>2. Awalilah selalu dengan membuat 
perencanaan yang baik dan persiapan yang matang. Gagal </span><span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">dalam
merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">3. 
Jangan lupa selalu <em>check</em> and <em>recheck</em>, tak boleh kita 
melakukan sesuatu tanpa cek ulang, sangat banyak peluang kesalahan atau 
kegagalan yang terselamatkan dengan sikap yang selalu </span><span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">mengadakan
pengecekan ulang.</span>
</p>
<p>
<span>4. Laksanakan segala sesuatu dengan 
kesungguhan, sikap yang hati-hati dan cermat, jangan anggap remeh 
kelalaian dan kecerobohan karena semua itu biang kesalahan dan 
kegagalan.</span>
</p>
<p>
<span>5. Selalu sempatkan untuk evaluasi 
dari setiap tahapan apa pun yang kita lakukan. Percayalah </span><span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">merenung
sejenak untuk mengevaluasi membuat karya kita akan semakin bermutu.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">6. 
Nikmatilah dengan menyempurnakan apa yang bisa dilakukan. Jangan pernah 
puas dengan </span><span>setengah-setengah, jangan pula puas 
dengan 90%, kalau kita bisa menyempurnakannya, mengapa tidak?</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">C. 
Inovatif</span>
</p>
<p>
<span>Segala sesuatu yang ada selalu 
berubah, di dunia ini tidak ada sesuatu apa pun yang tidak Berubah. 
Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, 
siapa pun yang </span><span>tidak menyiapkan diri untuk 
menghadapi perubahan maka dia akan tergilas kalah oleh perubahan 
tersebut.</span>
</p>
<p>
<span>Maka jelaslah sudah yang dimaksud 
dengan sabda Rasulullah bahwa orang yang hari ini sama dengan hari 
kemarin adalah orang yang merugi karena berarti tak ada kemajuan dan 
tertinggal oleh perubahan. Orang yang hari ini lebih buruk dari hari 
kemarin dianggap orang yang celaka, karena berarti akan tertinggal jauh 
dan sulit mengejar. Satu-satunya pilihan bagi orang yang beruntung 
adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, berarti harus ada 
penambahan sesuatu yang bermanfaat. Inilah sikap perubahan yang 
diharapkan selalu terjadi pada seorang muslim, sehingga tidak akan 
pernah tertinggal. Dia selalu antisipatif terhadap perubahan, dan selalu
siap menyikapi perubahan.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">Berikut ini beberapa 
anjuran agar kita dapat selalu mengembangkan kemampuan kreatif kita:</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">1. 
Banyak membaca dan menulis.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">2. Banyak berdiskusi dan 
bertanya.</span>
</p>
<p>
<span>3. Banyak melihat (mengadakan studi 
banding).</span>
</p>
<p>
<span>4. Banyak merenung (tafakur).</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">5. 
Banyak berbuat dan mencoba.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">6. Banyak beribadah dan 
berdoa.</span>
</p>
<p>
<span>Mudah-mudahan kegigihan diri kita, 
menjaga agar karir hidup ini menjadi orang bersih, </span><span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">terbuka,
jujur terpercaya yang dilakukan dengan tulus karena Allah semata. 
Selamat berjuang </span><span>saudaraku sekalian, cukuplah Allah 
sebagai satu-satunya tujuan, pelindung, tumpuan harapan </span><span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">dan 
satu-satunya penolong kita semua. <em>Wallahu a\'lam bishshawab</em>.</span>
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Langkah Kehidupan</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/566/langkah-kehidupan</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/566/langkah-kehidupan</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/566/langkah-kehidupan</guid>
			  <description>Bangun pagi lalu mensyukuri bahwa kita masih diberi kesempatan hidup adalah satu kenikmatan yang tak ternilai. Setidaknya, satu kepastian sudah kita lalui bahwa kita sudah melewati hidup kita sedemikian rupa. Apakah kehidupan kita bermakna bagi diri kita, ........ [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Bangun pagi lalu mensyukuri bahwa kita masih diberi kesempatan hidup 
adalah satu kenikmatan yang tak ternilai. Setidaknya, satu kepastian 
sudah kita lalui bahwa kita sudah melewati hidup kita sedemikian rupa. 
Apakah kehidupan kita bermakna bagi diri kita, orang lain, dan di 
hadapan Sang Pencipta, kita sendiri yang merasakannya. 
<p>
Malam hari sebelum kita tidur adalah waktu terbaik untuk melakukan 
evaluasi diri. Pada saat itu kita mungkin baru menyadari kalau banyak 
waktu yang telah kita sia-siakan. Coba bayangkan jika malam itu adalah 
malah terakhir kita, tentu kengerian yang akan kita dapat. Kita akan 
meninggal dengan sia-sia. Namun jika ternyata kita bisa sampai pagi, 
rasa syukur akan begitu terasa. 
</p>
<p>
Jika <strong>rasa syukur itu ditambah dengan janji untuk memperbaiki 
diri</strong>, maka kita akan melangkah di hari ini dengan program 
pengisian hidup yang lebih bermakna. Kita akan banyak berbuat baik pada 
orang sebagai pengganti masa lalu yang kita sia-siakan.
</p>
<p>
Analogi seperti itu yang saya bawakan pada <em>talkshow</em> di jaringan
radio Sonora, tadi pagi. Dengan tema <strong>LANGKAH KEHIDUPAN</strong>,
saya membawakan cerita seorang tentara yang di masa perang gagal 
menyelamatkan teman-remannya dari tebaran ranjau pas di hadapannya. Rasa
bersalah itu yang kemudian ia tumpahkan dengan memanfaatkan sisa 
hidupnya untuk menolong sesama, tanpa pamrih, dengan penuh ketulusan, 
dan tak kenal waktu.
</p>
<p>
<strong><em>Netter</em> yang berbahagia,</strong>
</p>
<p>
Kesadaran akan nilai waktu, kadang dipicu karena pengalaman kehidupan 
kita yang membekas. Pada saat itu, kita merasakan betapa berharganya 
waktu. Kita tak tahu apa yang akan terjadi kemudian karena hidup ini 
penuh dengan ketidakpastian. Karena saat sebuah kehidupan dimulai, 
kepastian yang akan datang adalah kematian. Kita tidak pernah tahu kapan
itu akan terjadi karena itu adalah rahasia Tuhan.
</p>
<p>
Nah, <strong>mari kita manfaatkan waktu yang masih kita punyai. Kita 
bangun kemandirian dan mengembangkan potensi diri, serta melakukan 
hal-hal yang positif  guna meraih sukses yang berguna bagi diri sendiri 
dan bagi banyak orang</strong>. 
</p>
<p>
Salam sukses luar biasa.. !!
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Putaran Waktu</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/565/putaran-waktu</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/565/putaran-waktu</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/565/putaran-waktu</guid>
			  <description>Di sela perjalanan yang jauh dan melelahkan, si pelajar berhenti sejenak melepas lelah. Tak lama ia pun terbawa dalam lamunan. Muncul perasaan was-was terhadap kemampuan dirinya dan sesaat kemudian dia membayangkan seandainya bisa diterima sebagai pegawai pemerintah. Di tengah asyiknya melamun, ... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Alkisah, ada seorang pelajar di sebuah desa kecil, yang memiliki 
cita-cita sebagai pegawai pemerintah. Demi mewujudkan cita-citanya, dia 
berangkat ke ibu kota untuk menempuh ujian negara. 
<p>
Di sela perjalanan yang jauh dan melelahkan, si pelajar berhenti sejenak
melepas lelah. Tak lama ia pun terbawa dalam lamunan. Muncul perasaan 
was-was terhadap kemampuan dirinya dan sesaat kemudian dia membayangkan 
seandainya bisa diterima sebagai pegawai pemerintah. Di tengah asyiknya 
melamun, tiba-tiba seorang kakek berdiri di hadapannya menyapa: &quot;Hai 
anak muda, engkau tampak bukan orang dari sini. Hendak ke mana?&quot; 
</p>
<p>
&quot;Saya hendak ke ibu kota Kek, mengikuti ujian negara.&quot;
</p>
<p>
&quot;Kakek perhatikan dari tadi, apa yang sedang kamu lamunkan?&quot;
</p>
<p>
Mereka pun terlibatpembicaraan seru. 
</p>
<p>
Setelah bertukar pikiran, tiba-tiba sang kakek mengeluarkan suatu benda 
dari sakunya. Lalu, iamemberikannya kepada si pelajar sambil berkata, 
&quot;Mungkin ini yang kau perlukan, Nak!&quot;
</p>
<p>
&quot;Sebuah gasing? Bagaimana sebuah gasing dapat mewujudkan cita-cita saya,
Kek?&quot; tanya si pemuda keheranan.
</p>
<p>
Sang kakek menjawab, &quot;Nak, ini adalah gasing waktu. Jika kamu memutar 
gasing ini ke kanan, maka kamu akan sampai pada saat dan keadaan yang 
seperti kamu inginkan.&quot; Setelah si pelajar menerima gasing,si kakek pun 
berlalu pergi.
</p>
<p>
Merasa aneh, si pelajar segera mencoba kebenaran ucapan sang kakek. 
Sambil membayangkan keberhasilan dirinya lulus ujian negara, ia memutar 
gasing ke kanan. Dan tiba-tiba, si pelajarmendapati dirinya berada di 
depan papan pengumuman ujian negara dan namanya tercantum pada 
pengumuman kelulusan. Ia sangat gembira. Namun kegembiraannya tidaklah 
bertahan lama. Muncul perasaan tidak sabar untuk segera bisa bekerja di 
pemerintahan. Maka ia pun kembali memutar gasingnya ke kanan dan dalam 
sekejap si pelajar sudah berada pada pekerjaannya di kantor 
pemerintahan.
</p>
<p>
Kenikmatan sebagai pegawai pemerintahan juga tidak bertahan lama. Timbul
keinginan yang lebih, yaitu sebagai pejabat tinggi pemerintah. Maka 
segera dia pun kembali memutar gasingnya. Dan pada saat itu juga ia 
berada pada posisi yang diinginkannya.Kini, ia memutar gasing untuk 
mempercepat waktu dan menghindari kesulitan dalam mencapai cita-cita 
telah menjadi kebiasaan si pelajar. 
</p>
<p align=\"center\">
<img src=\"http://www.andriewongso.com/otherimage/0-gasing.jpg\" alt=\"gasing waktu\" title=\"gasing\" width=\"183\" height=\"169\" />
</p>
<p>
Secepat gasing berputar, si pelajar pun berubah menjadi tua dan 
menjelang ajal. Ada penyesalan dalam dirinya, &quot;Betapa singkat dan 
hambarnya kehidupanku! Alangkah baiknya jika putaran gasing ini dapat 
mengembalikan aku pada masa lalu..&quot; 
</p>
<p>
Dalam kondisi putus asa sang pelajar memutar gasing ke arah yang 
berlawanan yaitu ke arah kiri. Dan tiba-tiba dia pun terbangun dari 
tidurnya! Eh, ternyata peristiwa semua tadi hanya mimpi belaka.
</p>
<p>
Sejenak, si pelajar merasa senang dan bersyukur bahwa semua itu cuma 
mimpi. Dia pun berjanji pada dirinya sendiri, akan tetap berusaha dan 
menikmati setiap proses perjuangan untuk mencapai apa yang menjadi 
cita-citanya.
</p>
<p>
<em><strong>Pembaca yang luar biasa,</strong></em> 
</p>
<p>
Dalam meraih cita-cita, seringkali kita tidak sabar menghadapi berbagai 
tantangan dan kesulitan. Kita bernafsu meraih kesuksesan atau kekayaan 
dengan cepat dan singkat. Memang seperti filosofi sukses saya, &quot;Sukses 
adalah Hak Saya!&quot; Akan tetapi, perlu diingat:<strong> untuk meraih 
setiap kesuksesan, kita harus siap bayar harga, siap berjerih payah, dan
tidak melanggar hukum moral. Jangan takut pada halangan yang 
menghadang, siap berjuang dan keluar keringat! Karena sesungguhnya, 
kenikmatan kesuksesan justru berada pada nilai proses perjuangan yang 
kita lakukan.</strong>
</p>
<p>
<em>Salam sukses, luar biasa!!</em>
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Etika Berwirausaha</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/564/etika-berwirausaha</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/564/etika-berwirausaha</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/564/etika-berwirausaha</guid>
			  <description>Rasul adalah seorang entrepreunership atau wirausahawan. Mulai usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <em>&quot;&hellip; Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan janganla kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.&quot; (QS. al-Maidah [5]: 2). </em>
<p>
Rasulullah saw bersabda: &quot;Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah.&quot; (HR Imam Ahmad).
</p>
<p>
Rasul adalah seorang entrepreunership atau wirausahawan. Mulai usia 8 tahun 2 bulan sudah mulai menggembalakan kambing. Pada usia 12 tahun berdagang sebagai kafilah ke negeri Syiria dan pada usia 25 tahun Rasul menikahi Khadijah dengan mahar 20 ekor unta muda. Ini menunjukan bahwa Rasul merupakan seorang wirausahawan yang sukses.
</p>
<p>
Jiwa wirausaha harus benar-benar ditanamkan dari kecil, karena kalau tidak maka potensi apa pun tidak bisa dibuat menjadi manfaat. Prinsip dari wirausahawan adalah memanfaatkan segala macam benda menjadi bermanfaat. Tidak ada kegagalan dalam berusaha, yang gagal yaitu yang tidak pernah mencoba berusaha.
</p>
<p>
Gagal merupakan informasi menuju sukses, keuntungan bukan hanya untung untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Kredibilitas diri kita adalah modal utama dalam berwirausaha, dengan menahan diri untuk tidak menikmati kebahagiaan orang lain sebagai keberuntungan kita. Jual beli bukan hanya transaksi uang dan barang, tapi jual beli harus dijadikan amal saleh yaitu dengan niat dan cara yang benar.
</p>
<p>
Uang yang tidak berkah tidak dapat memberi ketenangan, walau sebanyak apa pun akan tetap kurang dan membuat kita hina. Berjualan dengan akhlak yang mulia, pembeli tidak hanya mendapatkan barang tapi juga melihat kemuliaan akhlak seorang penjual.
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Kesalahan Pola Hati</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/mas-amri/563/kesalahan-pola-hati</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/mas-amri/563/kesalahan-pola-hati</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/mas-amri/563/kesalahan-pola-hati</guid>
			  <description>Semenjak saya menanam pepaya dan pohon kersen di depan rumah, banyak orang yang bertamu komentar tentang pepaya dan pohon kersen tersebut. Sembilan puluh sembilan persen orang yang datang kerumah, ... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"justify\">
Semenjak saya menanam pepaya dan pohon kersen di depan rumah, banyak orang yang bertamu komentar tentang pepaya dan pohon kersen tersebut. Sembilan puluh sembilan persen orang yang datang kerumah, termasuk beberapa orang yang datang hari ini berkomentarnya dengan kesalahan pola hati.<br />
<br />
Ketika mereka melihat pohon kersen misalnya selalu komentarnya, nanti banyak ulatnya dan itu menjijikkan serta menakutkan, hanya satu persen yang komentar nanti akan banyak kupu-kupu dan kalau menggunakan laptop dibawahnya dengan kekuatan wifi, bisa jelajah dunia dengan biaya murah dan sejuk banget udaranya, sambil menikmati buah kersen.<br />
<br />
Setelah saya telusuri dari tamu-tamu itu selama satu tahun, persis semenjak kami menanam pepaya dan pohon kersen itu, bagi yang komentarnya dari sisi negatif menurut versinya, dampak kehidupannya secara ekonomi, persahabatan, seni menghadapi hidup, ketenangan hati, visioner kehidupan, bersahabat dengan masalah dan lain sebagainya, lebih terlihat sangat statis, masalah kehidupannya berputar disitu-situ saja tanpa perubahan yang berarti. Paling yang berubah hanya usianya yang semakin bertambah dan masalah kehidupannya yang semakin bertumpuk. Beda yang satu persen lainnya, yaitu yang lebih memandang indahnya kupu-kupu dan sejuknya udara, mereka lebih dinamis, ceria, awet muda, visioner dan lain sebagainya.<br />
<br />
<strong>Sahabat CyberMQ</strong><br />
<strong>
</strong><br />
<strong>
</strong>Inilah mungkin, salah satu aplikasi kehidupan spiritual yaitu Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jadi apa yang ada dalam pola hati kita, nanti akan mempengaruhi pola pikir kita. Apa yang ada dalam pola pikir kita, nanti akan mempengaruhi pola ucap kita. Apa yang ada dalam pola ucap kita, nanti akan mempengaruhi pola prilaku kita. Apa yang ada dalam pola prilaku kita, nanti akan mempengaruhi kebiasaan kita. Apa yang ada dalam pola kibiasaan kita, nanti akan mempengaruhi pola karakter kita. Dan .... kawan ... apa yang ada dalam karakter kehidupan diri kita, nanti akan menjadi diri kita.<br />
<br />
Jadi ..... kita tinggal pilih saja .... Bagaimana pendapat sahabat???
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Rebab Dan Cinta</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/562/rebab-dan-cinta</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/562/rebab-dan-cinta</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/562/rebab-dan-cinta</guid>
			  <description>Alkisah, sayup-sayup terdengar suara merdu musik gesek di tengah keramaian jalan di sebuah kota. Orang-orang terhanyut mendengar alunan musik yang terasa menyedihkan di telinga. Selesai memainkan musiknya, terdengar tepuk tangan orang-orang di situ. Pemuda itu pun berdiri dan membungkukkan badannya, [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"justify\">
Alkisah, sayup-sayup terdengar suara merdu musik gesek di tengah 
keramaian jalan di sebuah kota. Orang-orang terhanyut mendengar alunan 
musik yang terasa menyedihkan di telinga. Selesai memainkan musiknya, 
terdengar tepuk tangan orang-orang di situ. Pemuda itu pun berdiri dan 
membungkukkan badannya, mengucap terima kasih atas penghargaan yang 
diberikan.
</div>
<p align=\"justify\">
Salah seorang penonton setengah baya, yang telah beberapa saat mengamati
si pemuda bermain musik, bertanya kepadanya, &quot;Anak muda, engkau 
tampaknya bukan penduduk sini. Permainan musikmu bagus sekali! Apa yang 
hendak kamu sampaikan lewat lagu sedih yang kamu mainkan tadi?&quot;
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Saya memang bukan penduduk sini Tuanku, saya dari desa sebelah yang 
sedang tertimpa musibah.&quot;
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Kamu ingin uang receh sebagai gantinya?&quot;
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Tidak Tuanku, tidak. Saya tidak menjual musik demi uang recehan...&quot; 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Lalu untuk apa kamu bermain musik di tengah keramaian ini?&quot; lanjutnya 
bertanya.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Sebenarnya, saya bermaksud ingin menjual alat musik ini. Saya sengaja 
bermain musik agar calon pembeli bisa mendengarkan merdunya alat musik 
kesayangan saya ini,&quot; jawab si pemuda seraya mengangsurkan alat musiknya
kepada tuan penanya.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Sambil menerima dan meneliti alat musik tersebut, sang tuan kembali 
berkata, &quot;Bila alat musik ini kesayanganmu, kenapa engkau rela untuk 
menjualnya?&quot;<br />
&quot;Tolong saya Tuan, istri saya sedang menunggu kelahiran anak kami. 
Walaupun alat musik ini adalah harta terakhir yang sangat saya sayangi, 
tetapi saya tahu, saya pasti lebih mencintai istri dan anak saya. Demi 
sebuah kehidupan baru, rasanya layaklah pengorbanan ini,&quot; jawabnya 
dengan mata berkaca-kaca.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Setelah menimbang beberapa saat, sang tuan merogoh kantong bajunya dan 
mengeluarkan kepingan emas. &quot;Terimalah uang ini untuk membantu kelahiran
anakmu!&quot;
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Segera diterimanya uang itu, dan si pemuda berseru gembira: &quot;Terima 
kasih banyak Tuan! Sebagai hadiah, saya berjanji akan mengajar memainkan
alat musik ini kepada Tuan.&quot;
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Dengan tangan yang lain, alat musik dikembalikan kepada si pemusik. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Si pemuda kebingungan bertanya, &quot;Apa yang salah, Tuan? Anda tadi sudah 
mendengar suaranya yang merdu kan?&quot; 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Hahaha, saya sengaja membayarmu untuk menyimpan alat musik ini. Karena 
alat ini tempatnya adalah di tanganmu. Saya yakin, tak seorang pun 
mengenal dan bisa memainkannya sebagus dirimu. Kerelaan menyerahkan 
hartamu yang paling berharga, demi cinta yang kau berikan adalah layak 
untuk upah yang saya berikan kepada kamu.&quot;
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Si pemuda terbata-bata bertanya, &quot;Tuan, bagaimana saya membalas kebaikan
ini?&quot; 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Anak muda, berikan cinta kepada anakmu dan limpahkan kasih sayang 
kepada istrimu, dengan begitu kamu telah melunasi kebaikanku,&quot; ucap tuan
penolong sambil beranjak pergi meninggalkan si pemuda yang masih 
terkesima.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
<strong><em>Pembaca yang Luar Biasa</em>,</strong>
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
<strong>Mauberkorban bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Lebih 
lebih, mengorbankan apa yang paling kita senangi. Bisa memberi, apalagi 
memberi tanpa mengharapkan balasan, ini juga sikap luhur yang tidak 
mudah untuk dilakukan. Kita memerlukan latihan dan membiasakan diri 
dalam kesempatan yang ada.</strong>
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Saya jadi ingat kata-kata mutiara dalam bahasa Inggris:<em> We make a 
living by what we get but, we make a life by what we give</em>. <strong>Kita
menjalanikehidupan dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita membuat 
hidup dari apa yang kita berikan.</strong>
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Mari kita tumbuh kembangkan sikap luhur ini dalam praktik di kehidupan 
kita. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Saya yakin dan percaya, (dari) apa yang kita beri, pasti ada kelimpahan 
yang akan kita dapatkan. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Salam sukses luar biasa!!
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Belajar Dari Wajah</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/561/belajar-dari-wajah</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/561/belajar-dari-wajah</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/561/belajar-dari-wajah</guid>
			  <description>Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, .... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"justify\">
Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.<br />
<br />
Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : &quot;Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?&quot; karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang. Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah irtri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.<br />
<br />
Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.<br />
<br />
Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari. Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.<br />
<br />
Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka caru tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.<br />
<br />
Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.<br />
<br />
Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.<br />
<br />
Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW &ndash; bila ada orang yang menyapanya &ndash; menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.<br />
<br />
Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.<br />
<br />
Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.<br />
<br />
Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!<br />
<br />
Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.***
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Prihatin Tak Lulus UN 100 Persen </title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/560/prihatin-tak-lulus-un-100-persen</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/560/prihatin-tak-lulus-un-100-persen</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/560/prihatin-tak-lulus-un-100-persen</guid>
			  <description>Baru saja hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/MA diumumkan. Adik-adik yang lulus sudah tentu bersuka-cita. Banyak cerita mengikuti pengumuman itu. Kita sama-sama membaca dan melihat beritanya yang tersebar di berbagai media karena ini  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Baru saja hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/MA diumumkan. Adik-adik 
yang lulus sudah tentu bersuka-cita. Banyak cerita mengikuti pengumuman 
itu. Kita sama-sama membaca dan melihat beritanya yang tersebar di 
berbagai media karena ini adalah ajang penting menyangkut masa depan 
bangsa dari satu generasi.
<p>
Ada banyak cara adik-adik kita yang lulus UN menumpahkan rasa syukur. 
Ada yang membagikan makanan ke masyarakat kurang beruntung, mengadakan 
pentas amal, atau sekadar berdoa bersama. Tetapi tentu saja ada ungkapan
yang berseberangan karena tingkat kelulusan UN 2010 tidak lebih baik 
dari tahun kemarin. 
</p>
<p>
Kita melihat di berita televisi betapa banyaknya yang histeris kecewa, 
tak percaya jika mereka gagal Ujian Nasional 2010. Yang membuat kita 
prihatin, yang tak lulus jumlahnya meningkat dibanding tahun lalu. Tahun
ini tingkat kelulusan UN SMA/MA hanya 89,88% sedangkan tahun lalu 
93,74%.Selain itu, sekolah yang 100% siswanya tidak lulus jumlahnya 
masih banyak. Menurut Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, jumlah 
sekolah yang 100% siswanya tidak lulus UN 2010 sebanyak 267 sekolah. 
Yang mengherankan, 51 sekolah di antaranya merupakan sekolah negeri. 
Juga sangat mengherankan ada 10 sekolah swasta di Jakarta yang juga 
mengalami hal yang sama.
</p>
<p>
<strong>Temen-teman yang luar biasa!</strong>
</p>
<p>
Banyak pertanyaan yang pantas kita ajukan. Namun yang paling sederhana 
menyangkut guru dan siswa-siswa sekolah bersangkutan, karena sepertinya 
ada sesuatu yang tidak sampai. Apakah gurunya sudah menyampaikan 
pelajarannya dengan benar dan apakah siswanya sudah belajar dengan 
disiplin dan benar? Kewajiban guru adalah memberikan pelajaran dengan 
sungguh-sungguh sesuai kurikulum, sedangkan kewajiban murid adalah 
belajar dengan sungguh-sungguh mengikuti pelajaran yang diberikan. Jika 
salah satu tak sempurna perannya maka hasil buruk yang akan diterima.
</p>
<p>
Mudah-mudahan ini menjadi bahan pelajaran kita semua. Bagi mereka yang 
tak lulus, sistem pendidikan kita masih memberikan kesempatan untuk 
mencoba (mengulang) UN 2010 pada 10-14 Mei mendatang. <strong>Ambil 
kesempatan ini!! Pastikan untuk berhasil, dengan belajar penuh disiplin 
dan kesungguhan hati!</strong>
</p>
<p>
<em>Salam sukses luar biasa!!</em>
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Membangun Ketaatan Diri</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/559/membangun-ketaatan-diri</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/559/membangun-ketaatan-diri</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/559/membangun-ketaatan-diri</guid>
			  <description>Saudaraku, sangat bijak bila kita tidak terburu-buru menyalahkan atau berburuk sangka kepada Allah, saat doa-doa kita belum terkabul. Sebab, tidak ada yang menghambat ijabahnya doa dan datangnya pertolongan Allah selain diri kita sendiri. Ada nasihat menarik dari Ibnu Athailah,  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"justify\">
Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun hendaknya engkau mengoreksi diri. Tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajibanmu kepada Allah. (Ibnu Athailah)<br />
<br />
Setiap orang pasti memiliki harapan. Namun tidak semua harapan bisa diwujudkan. Walau mungkin kita telah optimal berusaha atau dan berulang kali memanjatkan berdoa. Bila demikian apa yang salah, ikhtiarnya-kah atau doanya?<br />
<br />
Saudaraku, sangat bijak bila kita tidak terburu-buru menyalahkan atau berburuk sangka kepada Allah, saat doa-doa kita belum terkabul. Sebab, tidak ada yang menghambat ijabahnya doa dan datangnya pertolongan Allah selain diri kita sendiri. Ada nasihat menarik dari Ibnu Athailah, Jangan menuntut Allah karena terlambatnya permintaan yang telah engkau panjatkan kepada-Nya. Namun hendaknya engkau mengoreksi diri. Tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajibanmu kepada Allah.<br />
<br />
Jadi, terhambatnya pengabulan doa bukan karena Allah tidak mau memberi. Penyebab utamanya ada pada diri kita sendiri yang tidak bersungguh-sungguh dalam memenuhi hak-hak Allah. Karena itu, kita harus mulai mengoreksi diri. Sudah benarkan ibadah kita? Sudah totalkan pengharapan kita kepada Allah? Sudah bersungguh-sungguhkan kita dalam taat kepada Allah? Kalau belum, jangan menyalahkan siapa pun bila pertolongan Allah belum menghampiri kita.<br />
<br />
Penjabarannya, lihat ibadah kita, apakah sudah benar dan optimal. Apakah kita tergolong orang yang gemar melakukan amal-amal yang disukai Allah: mencintai masjid, menjaga shalat berjamaah dan tepat waktu, tahajud, bersedekah dalam senang atau susah, gemar menolong orang, zikir setiap waktu, dsb. Bila untuk kewajiban-kewajiban utama saja kita kurang bersungguh-sungguh, maka bagaimana mungkin pertolongan Allah akan datang?<br />
<br />
Rasulullah SAW bersabda, Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah di luar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya, jika Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepadaku niscaya akan aku berikan dan jika ia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi. (HR Bukhari).<br />
<br />
Menurut hadis ini kunci datangnya pertolongan Allah, kunci pembuka pintu-pintu rezeki, ilmu dan segala kebaikan, adalah ketakwaan dan kesungguhan kita melaksanakan amal-amal yang dicintai Allah. Dalam QS Ath Thalaaq [65] ayat 2-3, Allah SWT menegaskan, Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.<br />
<br />
Saudaraku, membangun ketaatan kepada Allah dalam ibadah-ibadah fardhu dan sunat plus keterkaitan hati kepada-Nya adalah fondasi dasar bangunan keimanan seorang hamba. Tanpa adanya fondasi ini, tidak berguna ketinggian ilmu, kecanggihan manajemen, optimalnya ikhtiar atau melimpahnya kekayaan. Semuanya akan berujung pada bencana dan keputusasaan.<br />
<br />
Saudaraku, perlu ditegaskan lagi bahwa tugas kita ada tiga. Pertama, meluruskan niat. Kedua, menyempurnakan ikhtiar. Ketiga, bertawakal sepenuh hati kepada Allah. Andai kita sudah melaksanakan semua itu, namun apa yang kita dapatkan belum juga sesuai keinginan, maka yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan sekecil apapun amal hamba-Nya. Allah pasti akan memberikan yang terbaik. Kewajiban hanyalah berusaha dan berproses secara optimal dalam koridor yang telah ditetapkan. Hasil sepenuhnya ada dalam genggaman Allah. Wallaahu a`lam. <br />
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Mengapa Anak Malas Belajar?</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/558/mengapa-anak-malas-belajar</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/558/mengapa-anak-malas-belajar</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/558/mengapa-anak-malas-belajar</guid>
			  <description>Pertama, kontruksi bangunan rumah. Hal ini memang jarang terperhatikan oleh banyak sekali keluarga. Mereka masih menganggap rumah sebagai “benda mati”. Padahal,  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"justify\">
Mengapa anak-anak lebih suka bermain ketimbang belajar membaca? Mengapa sebagian anak senang tinggal di rumah, sebagian lagi tidak betah? Ada beberapa penyebabnya.<br />
<br />
Pertama, kontruksi bangunan rumah. Hal ini memang jarang terperhatikan oleh banyak sekali keluarga. Mereka masih menganggap rumah sebagai &ldquo;benda mati&rdquo;. Padahal, rumah pada hakekatnya bukan hanya tempat tinggal belaka, melainkan juga tempat terbinanya kasih-sayang diantara keluarga, tempat dibinanya manusia-manusia sempurna (insanul kamil), tempat mekarnya taruna-taruna bangsa.<br />
<br />
Oleh sebab itu, sesuai fungsinya, orang tua harus mampu menjamin seluruh penghuni agar betah di rumah, terutama anak-anak. Tanpa itu, terpadunya kasih-sayang dan kedamaian bisa jadi hanya tinggal impian.<br />
<br />
Itulah sebabnya, konstruksi-desain-tata-ruang dalam suatu rumah perlu diperhatikan dengan seksama. Rancangan rumah secara tak langsung mempengaruhi jiwa penghuninya. Bahkan, kalau memungkinkan, sangat baik bila disediakan pula ruang belajar khusus, yang ditata sedemikian rupa hingga si anak bisa betah bertahan belajar di rumahnya sendiri.<br />
<br />
Ruang belajar itu tak perlu mewah, dalam arti luas serta diisi perabot yang wah. Cukup sederhana saja. Secara psikologis ini akan membuat anak terbiasa dengan kesederhanaan hidup. Letaknya tentu tidak boleh serampangan. Sedapat mungkin hindarilah kondisi fisik yang gelap, pengap, dan tidak menyegarkan, serta &hellip; jangan terlampau dekat dengan kamar atau pun tempat tidur.<br />
<br />
Ruang belajar ini dapat bermacam-macam ragamnya, tergantung kondisi keluarga yang bersangkutan. Bagi yang mampu, barangkali baik jika disediakan kamar khusus tempat belajar. Di tempat ini anak diberi keleluasaan untuk berkreasi dan mengembangkan potensi diri. Berilah mereka hak otonomi penuh atas ruangan itu, tak seorang pun dapat turut campur mengaturnya. Orang tua hanya mengarahkan, membimbing, serta mengontrol saja. Hal ini akan mendewasakan diri sang anak, karena sejak kecil ia terbiasa bertanggung jawab serta memikul akibat-akibatnya.<br />
<br />
Di samping itu bisa juga dibuat format ruangan besar, dengan masing-masing anak memiliki otonomi atas meja belajarnya sendiri. Barangkali seperti suasana kantorlah, cuma harus dijaga juga ketentraman belajarnya. Selain itu, bisa juga meja belajar dipakai bersama, termasuk kedua orang tua. Di sini peran ayah ataupun ibu sungguh sangat&nbsp; mengena, langsung menembus hati anak-anaknya.<br />
<br />
Kedua, tata perangkat lunaknya, yakni perangkat-perangkat pengisi yang memperlancar proses belajar. Umpamanya saja pengaturan cahaya lampu atau sinar Matahari. Sekalipun tampaknya memang kurang berarti, namun kenyataannya hal itu sangat berpengaruh. Hal ini dapat kita mengerti dari fakta yang dapat kita jumpai setiap hari. Buku-buku misalnya, kebanyakan warna dasar kertasnya putih, yang cenderung kuat memantulkan cahaya. Karena mata harus bekerja keras untuk mengimbangi energi kuat yang dipantulkan dari kertas putih tersebut. Tentu anak tak akan tahan belajar lama-lama.<br />
<br />
Begitu pula sebaliknya. Cahaya lampu yang terlalu lemah akan menyebabkan mata lelah dan cepat berair, kepala lekas pusing dan tegang, lalu akhirnya timbul rasa malas belajar.<br />
<br />
Cahaya lampu perlu diatur sedemikian rupa agar mata bisa bekerja normal, tak berkontraksi atau pun menegang. Bagaimana pun juga hal ini amat penting, paling tidak salah satu faktor telah dapat kita kendalikan.<br />
<br />
Perangkat lunak lainnya misalnya kedisiplinan, ketertiban, dan suasana kasih sayang. Yang dimaksud disiplin di sini bukan berarti otoriter dan bersikap kaku-keras terhadap anak-anak. Karena sikap seperti itu hanya akan menyebabkan si anak selalu merasa rendah diri, senantiasa salah dalam melakukan apa saja, dan sebagainya. Padahal, potensi kreatif anak hanya bisa tumbuh dalam suasana kebebasan yang terarah, bukan otoriter yang dipaksakan.<br />
<br />
Begitu pula ketertiban, yang termasuk di dalamnya kebersihan dan keindahan. Pendek kata keharmonisan. Lingkungan rumah yang nyaman, senantiasa bersih, dan rapi pasti akan menimbulkan hasrat &ldquo;menyenangkan&rdquo;. Si anak akan betah berlama-lama di rumah. Siapa yang tidak senang berada dalam lingkungan yang selalu bersih dan menyenangkan?<br />
<br />
Kendati demikian, semua itu tidak berarti sama sekali jika suasana di dalamnya serba menakutkan, serba hitam. Rumah, bagaimanapun jeleknya, tetap bukan pabrik tempat &ldquo;memproduksi&rdquo; manusia-manusia dan setelah itu dibiarkan begitu saja. Rumah juga bukan sekadar tempat pengistirahatan.<br />
<br />
Bila penghuni rumah begitu sibuk mengurus diri sendiri dan kosong dari sinar kasih serta kedamaian, tidak heran bila banyak anak dan remaja tak pernah merasa betah di rumah. Kasih sayang yang amat didambakan tak kunjung tiba. Perhatian dan kedamaian secuil pun tidak mereka peroleh. Terkadang rumah mereka rasakan bagai Neraka. Akibatnya &ldquo;lari&rdquo;-lah mereka keluar, mencari dan mencari setitik kasih dan perhatian, mencari pohon tempat berteduh, tempat meluapkan gerah yang menghimpit batinnya.<br />
<br />
Bukankah tindakan itu merupakan jalan pikiran yang sehat dan logis? Ia tidak menemukan&nbsp; rasa &ldquo;aman&rdquo; di rumah, karena itu ia mencari &ldquo;keamanan&rdquo; di luar rumah. Kalau di rumah ia kurang memperoleh pengakuan dan penghargaan diri sebagai manusia, maka ia menuntut pengakuan dan penghargaan itu di luar rumah, dari teman sebayanya mungkin. Pendeknya, lingkunganlah yang kini menjadi tempat berlabuhnya. Jikalau lingkungannya baik, masih ada kemungkinan ia akan kembali menemukan dirinya lagi. Tapi kalau sebaliknya?<br />
<br />
Pada dasarnya, anak-anak tidak mau belajar bukan karena dia malas. Kemalasan hanyalah akibat dari beberapa sebab yang mendahuluinya, yang pada intinya adalah karena ia tidak betah belajar. Ketidakbetahan belajar itupun sesungguhnya merupakan akibat dari sekian banyak sebab yang salah satu diantaranya &ndash;yang paling menonjol- adalah anak tidak merasa nyaman berada di rumah.<br />
<br />
Hal terakhir ini pun merupakan akibat dari sejumlah sebab tertentu, antara lain kontruksi ruangan, tata letak dan desainnya, kerapihan, keindahan, keharmonisan, dan yang paling penting hubungan kasih sayang orang tua dengan anak-anaknya. Bisa dikatakan, faktor perhatian dan kasih sayang inilah &ndash;dalam arti sebenarnya- yang paling berpengaruh terhadap diri anak, sekalipun ia tinggal dalam gubuk miskin, reot, dan tak berbunga&hellip;!<br />
<br />
*** Penulis: Nilna Iqbal<br />
<br />
Sumber: pustakanilna{dot}com
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Gagal, Bangkit Lagi!! (Never Give Up!!) </title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/557/gagal-bangkit-lagi-never-give-up</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/557/gagal-bangkit-lagi-never-give-up</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/557/gagal-bangkit-lagi-never-give-up</guid>
			  <description>Pada suatu sore hari, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum. Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan, dan frustasi yang menggantung. Dia hanya berjalan dengan langkah gontai ke sana kemari tanpa arti, seperti tak tahu apa yang dilakukannya. Sementara di taman itu banyak orang menikmati keindahan pepohonan yang sesekali diiringi kicauan burung,  [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Pada suatu sore hari, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah 
taman umum. Dari raut wajahnya tampak kesedihan, kekecewaan, dan 
frustasi yang menggantung. Dia hanya berjalan dengan langkah gontai ke 
sana kemari tanpa arti, seperti tak tahu apa yang dilakukannya. 
Sementara di taman itu banyak orang menikmati keindahan pepohonan yang 
sesekali diiringi kicauan burung, si pemuda hanya tertunduk lesu. 
Setelah sekian lama, ia kemudian terduduk di sebuah kursi taman dan 
menghela napas panjang.
<p>
Saat itu, tiba-tiba pandangan matanya terpaku pada gerakan seekor 
laba-laba yang sedang membuat sarangnya di antara ranting sebatang pohon
tempat dia duduk sambil melamun. Dengan perasaan iseng dan kesal, 
diambilnya sebatang ranting yang jatuh tak jauh dari tempatnya duduk. 
Seperti hendak melepaskan tak karuan yang melandanya, si pemuda segera 
mengarahkan ranting terseb ut untuk merusak sarang si laba-laba.  
Akibatnya, benang-benang sarang dari laba-laba yang sudah seperempat 
jadi itu pun rusak berantakan. 
</p>
<p>
Setelah puas dengan kelakuannya, si pemuda memperhatikan ulah si 
laba-laba. Dalam hati dia ingin tahu, kira-kira apa yang akan dikerjakan
laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya? Apakah 
laba-laba akan lari terbirit-birit atau dia akan membuat kembali 
sarangnya di tempat lain? 
</p>
<p>
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban untuk waktu yang lama. Karena 
si laba-laba kembali ke tempatnya semula dan mulai mengulangi kegiatan 
yang sama. Laba-laba merayap-merajut-melompat, dan dengan lincah ia 
menyusun helai benang yang dipintalnya dengan penuh ketekunan. Semakin 
lama, semakin lebar dan  ia pun hampir menyelesaikan seluruh pembuatan 
sarang barunya. Setelah menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk 
bekerja lagi dengan semangat penuh memperbaiki dan membuat sarang baru, 
pemuda yang dari tadi memperhatikan ulah laba-laba kembali timbul rasa 
isengnya. Maka, kembali ranting si pemuda beraksi dengan tujuan 
menghancurkan sarang tersebut untuk kali kedua. 
</p>
<p>
Setelah kembali hancur, pemuda kembali ingin tahu, apa yang akan 
dilakukan si laba-laba. Ternyata, tak disangka-sangka oleh si pemuda, 
untuk ketiga kalinya laba-laba mengulangi kegiatannya. Ia kembali 
memulai dari awal - dengan bersemangat merayap-merajut-melompat dan 
menyusun setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya. Dengan tekun
laba-laba kembali memintal membuat sarang sedikit demi sedikit. 
</p>
<p>
Demi melihat dan mengamati ulah laba-laba yang mau membangun sarang yang
telah hancur untuk kali ketiga, sang pemuda mendadak sontak 
tersadarkan. Tidak peduli berapa kali sarang laba-laba dirusak dan 
dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba membangun sarangnya kembali. 
Semangat binatang yang begitu kecil, namun giat bekerja tanpa mengenal 
lelah, menimbulkan perasaan malu pada diri pemuda. Ia seperti 
mendapatkan pencerahan. Karena sesungguhnya, si pemuda yang tadinya 
merasa hati dan perasaannya gundah, rupanya baru saja mengalami satu 
kali kegagalan! 
</p>
<p>
Karena itu, melihat semangat pantang menyerah laba-laba, dia pun 
berjanji dalam hati, &quot;Aku tidak pantas mengeluh dan putus asa karena 
telah mengalami satu kali kegagalan. Aku harus bangkit lagi! Berjuang 
dengan lebih giat dan siap memerangi setiap kegagalan yang menghadang, 
seperti semangat laba-laba kecil yang membangun sarangnya kembali dari 
setiap kehancuran!&quot; Segera, si pemuda bangkit, dan bertekad kuat untuk 
bekerja lebih giat lagi. Bila perlu, dia akan memulai dari awal lagi, 
tanpa putus asa.
</p>
<p>
<strong>Pembaca yang luar biasa</strong>,
</p>
<p>
Mengalami kegagalan bukan berarti kita harus menyerah, apalagi putus 
asa. Sebab,<strong> sebenarnya dengan kegagalan itu berarti kita harus 
introspeksi diri dan berikhtiar lebih keras dari hari kemarin</strong>...
Melalui kegagalanlah kita bisa mengevaluasi setiap langkah yang telah 
kita lakukan. Dengan begitu, kita akan tahu hal apa saja yang perlu 
diperbaiki dan tahu di mana saja kesalahan yang telah kita perbuat untuk
tidak mengulanginya. Hal itu akan mendasari langkah kita ke depan 
menjadi lebih baik. 
</p>
<p>
Kegagalan harusnya mulai kita pandang dari sudut yang berbeda. Kita 
gagal bukan berarti kita tidak sukses, melainkan kita belum sukses. 
Seperti kata pepatah yang sering kita dengar: kegagalan adalah bagian 
kecil dari proses sebuah kesuksesan atau kegagalan adalah kesuksesan 
yang tertunda.
</p>
<p>
Banyak tokoh dunia yang kita kenal, semua pasti pernah mengalami proses 
kegagalan. Tak hanya sekali, bahkan berkali-kali. Tak hanya itu, saat 
berada di puncak kesuksesan pun, tak jarang mereka terpeleset dan bahkan
kembali jatuh ke jurang. Namun, bagi mereka yang memiliki kekayaan 
mental,<strong> rasa sakit dan jatuh itu hanya akan dirasakan sebagai 
masa belajar dan mengasah diri untuk kembali menggapai prestasi</strong>.
</p>
<p>
Itulah kekuatan sesungguhnya dari semangat &quot;<strong>Never Give Up!</strong>&quot;,
yakni semangat pantang menyerah yang timbul dari dalam insan-insan luar
biasa yang sadar potensi. Sebab, di balik kegagalan, pastilah ada 
pembelajaran. Di balik halangan dan rintangan menghadang, pastilah ada 
peluang yang menantang untuk dimenangkan. Untuk itu, mari kita jadikan 
semangat &quot;Never Give Up!&quot; menjadi sumber kekuatan untuk terus menerjang 
tantangan. Jadikan semboyan &quot;Never Give Up!&quot; sebagai pedoman untuk 
berkarya, bertindak, dan berusaha demi mencapai sukses yang luar 
biasa!!!
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Lapang Dada Menerima Kritik</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/556/lapang-dada-menerima-kritik</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/556/lapang-dada-menerima-kritik</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/556/lapang-dada-menerima-kritik</guid>
			  <description>Puncak kesuksesan seseorang bermuara pada kelapangan dada dalam menerima kritikan. Namun, anehnya tidak semua orang suka dikritik, karena beranggapan kritik adalah penghinaan yang menurunkan harga diri dan mencemarkan nama baik. Padahal kalau kita bisa menyikapinya, kritikan tidak akan menjadi bumerang melainkan rezeki... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p class=\"hitam\" align=\"justify\">
<span>Puncak kesuksesan seseorang bermuara
pada kelapangan dada dalam menerima kritikan. Namun, anehnya tidak 
semua orang suka dikritik, karena beranggapan kritik adalah penghinaan 
yang menurunkan harga diri dan mencemarkan nama baik. Padahal kalau kita
bisa menyikapinya, kritikan tidak akan menjadi bumerang melainkan 
rezeki yang tidak disangka-sangka. Lalu, bagaimana caranya agar kita 
siap menerima kritikan orang lain? </span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">Cara 
yang efektif untuk bisa berlapang dada dalam menerima kritikan, dapat 
diawali dengan teknik mencari tahu kelemahan diri dari kerabat terdekat.
Teknik ini bukan untuk mencari kelemahan agar mudah dipersenjatai 
melainkan memudahkan kita dalam mengetahui kekurangan diri.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">Orang
terdekat akan lebih terbuka dalam memberikan kritikan. Kritik tersebut 
tidak hanya dalam hal keindahan, seperti cocok atau tidak baju yang kita
pakai, akan tetapi mintalah dikritik mengenai perilaku kita. Apakah 
sudah sesuai dengan yang mereka harapkan? Juga apakah sikap kita aman 
bagi orang lain?</span>
</p>
<p>
<span>Dengan mengetahui kelemahan diri, 
maka akan memperjelas kekurangan diri sehingga termotivasi untuk terus 
melakukan perbaikan. Apabila teknik mencari tahu kelemahan diri ini 
dipraktekan secara kontinyu dan konsisten, bisa dipastikan akan 
terbangun sikap dan perilaku pengendalian diri. </span><span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">Karena
ada orang-orang disekitar yang mengawasi sikap dan perilaku kita, 
selain Allah tentunya. </span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">Ketika teknik mencari 
kelemahan diri dari kerabat terdekat tersebut sudah dikuasai, dengan 
sendirinya kita akan siap menerima kritikan dari orang lain. Kita tidak 
akan merasa dilemahkan oleh kritikan. Justru diuntungkan, karena sudah 
dibantu oleh orang-orang untuk memberikan masukan demi perbaikan diri. </span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">Dan 
seseorang bisa berlapang dada menerima kritikan jika hatinya bersih. 
Dalam hati yang bersih terdapat kestabilan dalam mengatur diri. Sepedas 
apapun kritik akan dihadapi dengan ketenangan. Seandainya kritik itu 
benar, maka kita akan bersyukur karena ada yang mengingatkan. Dan bila 
kritik itu berada diluar diri-berupa fitnah-maka berusahalah untuk 
mengambil pelajaran darinya.</span>
</p>
<p>
<span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">Untuk itu saudaraku, 
tidak ada kritik yang akan melemahkan diri. </span><span style=\"font-family: \'Trebuchet MS\',\'sans-serif\'; font-size: 10pt\">Kita 
tidak akan terhinakan oleh kritik dan kita pun tidak akan dipermalukan 
oleh pedasnya cacian. Semua perlakuan dari orang lain itu adalah rezeki.
Karena ada kritiklah kita bisa lebih mendewasakan diri dan karena ada 
cacianlah kita dapat memperbaiki diri.</span>
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Ketika Anak Hilang Percaya Diri</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/555/ketika-anak-hilang-percaya-diri</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/555/ketika-anak-hilang-percaya-diri</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/555/ketika-anak-hilang-percaya-diri</guid>
			  <description>Wajahnya pucat, matanya nanar, mulutnya terdiam, pandangannya tertuju pada telunjuk-telunjuk yang terarah pada mukanya. Badannya dihentakkan, kepalanya di’degung’kan, kakinya ditendang, ... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Wajahnya pucat, matanya nanar, mulutnya terdiam, pandangannya tertuju pada telunjuk-telunjuk yang terarah pada mukanya. Badannya dihentakkan, kepalanya di&rsquo;degung&rsquo;kan, kakinya ditendang, teriak yang memekakkan nyaring terdengar di telinganya. Mereka semua memaki, kata-kata kotor keluar dari mulut mereka. Entah kenapa, teman-teman sekolahnya berlaku seperti itu. Apa salah anak itu sehingga teman-temannya merasa punya hak untuk menghakimi, mencaci dan memaki.<br />
<br />
Dia hanya sendirian, berhadapan dengan belasan temannya yang garang bagai singa yang kelaparan. Kulerai mereka. Terus terang aku emosi. Aku teriaki mereka, ini sudah keterlaluan.<br />
<br />
Kemudian anak itu berjalan, menyusuri jalan kampung yang kering oleh matahari. Kepalanya menunduk ke bawah. Mencari&hellip; masih adakah cinta di bumi. Hatinya hancur, harga dirinya ambruk, tak ada lagi percaya diri.<br />
<br />
Ya.. mungkin, mungkin saja hal itu bisa terobati. Jika ketika anak itu kembali, mereka disambut dengan senyum orang tuanya, didengar kisah pedihnya, dan dibelai dengan penuh kasih sayang, direngkuh dalam pelukan hangat ibunda, dipangku oleh genggaman kuat ayahanda, dan dibisikki kata bijaksana seorang orangtua .<br />
<br />
Rumah adalah markas, rumah adalah barak. Di sanalah tempat menyusun kekuatan sebelum kembali berlaga di medan pertempuran. Tempat mengisi kembali batere yang habis dipakai seharian. Sehingga hati kembali berenergi, wajah kembali bercahaya, dan hidup akan terlihat begitu indahnya.<br />
<br />
Ah&hellip; anak-anakku.<br />
Aku sayang padamu.
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Disiplin dan Tanggung Jawab </title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/554/disiplin-dan-tanggung-jawab</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/554/disiplin-dan-tanggung-jawab</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/554/disiplin-dan-tanggung-jawab</guid>
			  <description>Saat Sun Tzu diuji kemampuannya oleh Raja Wu untuk membuktikan efektivitas strategi perangnya, ia diangkat menjadi panglima perang oleh sang raja. Kemudian, ia membuktikan ucapannya dengan tindakan berani menghukum secara tegas siapa pun yang melanggar perintahnya sebagai panglima, ... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ Saat Sun Tzu diuji kemampuannya oleh Raja Wu untuk membuktikan 
efektivitas strategi perangnya, ia diangkat menjadi panglima perang oleh
sang raja. Kemudian, ia membuktikan ucapannya dengan tindakan berani 
menghukum secara tegas siapa pun yang melanggar perintahnya sebagai 
panglima, termasuk kepada dua orang selir kesayangan raja.<br />
<br />
<p>
Kisah tersebut selengkapnya telah saya kupas di edisi perdana Majalah <em>LuarBiasa</em>
edisi Januari 2009. Namun, nilai kedisiplinan yang tercetus dari kisah 
itu masih sangat relevan untuk dibahas dan dilaksanakan hingga saat ini.
<strong>Kedisiplinan adalah jantung kehidupan manusia yang mau meraih 
kesuksesan. Sebab, tanpa disiplin yang keras dan berkesinambungan, 
seseorang tidak mungkin dapat mengembangkan diri secara optimal. </strong>
</p>
<p>
Sebuah perusahaan tidak mungkin dapat meraih kemajuan jika karyawannya 
tidak memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab dalam menjalankan semua 
tugas perusahaan. Datang sering terlambat, pulang lebih cepat, takut 
tugas yang menantang, korupsi waktu, kerja setengah hati, dan lain 
sebagainya. 
</p>
<p>
Begitu pula dengan tatanan pada sebuah negara. Sebuah negara tidak 
mungkin menjadi kuat jika dibangun di atas puing-puing ketidakdisiplinan
oleh mayoritas warga negaranya. Sebaliknya, sebuah negara yang kuat 
pasti dibangun oleh mayoritas warga negara yang kesehariaannya mematuhi 
prinsip-prinsip dasar hukum masyarakat dan negara. Dan, salah satu 
prinsip yang harus dimiliki dan dikembangkan adalah disiplin. 
</p>
<p>
Dengan kedisplinan yang dibangun dan tanggung jawab yang diemban dengan 
sangat baik, Sun Tzu terbukti mampu menjadi besar dan bahkan melegenda 
meski ajarannya telah berusia lebih dari 2500 tahun. Disiplin terbukti 
menjadi titik tolak keabadian ajaran Sun Tzu yang tetap relevan hingga 
kini. 
</p>
<p>
Sayang, kita masih sering menyaksikan kedisiplinanyang dilanggar di 
sekitar kita. Kedisiplinan sederhana yang sering kita lihat adalah soal 
disiplin lalu lintas. Bisa kita saksikan dan rasakan sendiri bagaimana 
disiplin berlalu-lintas, terutama di kota besar seperti Jakarta, makin 
lama justru makin rendah. Padahal, Jakarta adalah kota metropolitan, ibu
kota negara yang menjadi jendela Indonesia. 
</p>
<p>
Kenyataannya, setiap hari lebih dari separuh lampu lalu lintas dan aneka
rambu dilanggar oleh pengguna jalan raya dengan sadar dan sengaja. Saat
tak ada petugas polisi pengatur lalu lintas, disiplin seolah menjadi 
barang mewah yang jarang dimiliki setiap orang. Ketika lampu merah 
menyala, banyak kendaraan bermotor menerobos lampu, bahkan memacu 
kendaraannya, tanpa menghiraukan keselamatan dan besarnya kemungkinan 
terjadinya kecelakaan. 
</p>
<p>
Belum lagi jalan belokan atau memutar yang dengan jelas memasang tanda 
larangan. Justru, inilah larangan yang paling sering dilanggar, bahkan 
diatur oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang mencari upah 
sekadar recehan rupiah. 
</p>
<p>
Lantas, siapakah yang bertanggung jawab atas ketidakdisplinan dan 
kemunduran moralitasseperti ini? Sudah pasti yang bertanggung jawab 
bukan hanya sekadar pemerintah, polisi, atau pejabat berwenang lainnya. 
Tetapi, <strong>yang wajib bertanggung jawab dan menegakkan kedisplinan 
adalah saya, Anda, dan kita semua!!!</strong>
</p>
<p>
Jika kita ingin Indonesia bangkit sejajar dengan bangsa dan negara maju 
lainnya, tidak ada cara lain kecuali <strong>membangun kekayaan mental, 
yaitu dengan mempraktikkan sikap disiplin, tanggung jawab, menghormati 
hak orang lain, jujur, mematuhi hukum negara dan masyarakat, mau bekerja
keras, dan berbagai kekayaan mental lainnya</strong>. 
</p>
<p>
Mari, kita bangun sikap mental disiplin dan bertanggung jawab layaknya 
Sun Tzu yang memegang teguh pendiriannya. Dengan meningkatkan kekayaan 
mental tersebut, kita pasti akan mencapai kehidupan yang jauh lebih baik
dan bermutu. 
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Keberuntungan Memiliki Bening Hati</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/553/keberuntungan-memiliki-bening-hati</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/553/keberuntungan-memiliki-bening-hati</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/aa-gym/553/keberuntungan-memiliki-bening-hati</guid>
			  <description>Keberuntungan memiliki hati yg bersih sepatut membuat diri kita berpikir keras tiap hari menjadikan kebeningan hati ini menjadi aset utama untuk menggapai kesuksesan dunia dan akhirat kita. Subhanallaah betapa kemudahan dan keindahan hidup akan senantiasa meliputi diri orang yg berhati bening ini. Karena itu mulai detik ini bulatkanlah tekad untuk bisa menggapai susun pula program nyata untuk mencapainya. [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"justify\">
Keberuntungan memiliki hati yg bersih sepatut membuat diri kita
berpikir keras tiap hari menjadikan kebeningan hati ini menjadi aset
utama untuk menggapai kesuksesan dunia dan akhirat kita. Subhanallaah
betapa kemudahan dan keindahan hidup akan senantiasa meliputi diri
orang yg berhati bening ini. Karena itu mulai detik ini bulatkanlah
tekad untuk bisa menggapai susun pula program nyata untuk mencapainya.
Diantara program yg bisa kita lakukan untuk menggapai hidup indah dan
prestatif dengan bening hati adalah : <br />
<br />
<ol>
	<li>Ilmu Carilah terus ilmu tentang hati
	keutamaan kebeningan hati kerugian kebusukan hati bagaimana perilaku
	dan tabiat hati serta bagaimana utk mensucikannya. Diantara ikhtiar yg
	bisa kita lakukan adalah dgn cara mendatangi majelis taklim membeli
	buku-buku yg mengkaji tentang kebeningan hati mendengarkan
	ceramah-ceramah berkaitan dgn <strong> ilmu hati </strong> baik dari kaset maupun langsung dari nara sumbernya. Dan juga dgn cara berguru langsung kepada orang yg sudah memahami  ini dgn benar dan ia mempraktekan dalam kehidupan sehari-harinya. Harap dimaklumi <strong> ilmu hati </strong>
	yang disampaikan oleh orang yg sudah menjalani akan memiliki kekuatan
	ruhiah besar dalam mempengaruhi orang yg menuntut ilmu kepadanya. Oleh
	karena carilah ulama yg dgn gigih mengamalkan <strong> ilmu hati </strong>
	ini. </li>
	<li>Riyadhah atau Melatih Diri Seperti kata pepatah &ldquo;alah bisa krn
	biasa&rdquo;. Seseorang mampu melakukan sesuatu dengan optimal salah satu krn
	terlatih atau terbiasa melakukannya. Begitu pula upaya dalam
	membersihkan hati ini ternyata akan mampu dilakukan dengan optimal jikalau
	kita terus-menerus melakukan riyadhah . </li>
</ol>
<br />
Adapun bentuk latihan diri yang
dapat kita lakukan untuk menggapai bening hati ini adalah Menilai
kekurangan atau keburukan diri. Patut diketahui bahwa bagaimana mungkin
kita akan mengubah diri kalau kita tak tahu apa-apa yang harus kita ubah
bagaimana mungkin kita memperbaiki diri kalau kita tak tahu apa yg
harus diperbaiki. Maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah dengan
bersungguh-sungguh untuk belajar jujur mengenal diri sendiri dengan cara
Memiliki waktu khusus untuk tafakur. <br />
<br />
Setiap ba&rsquo;da shalat kita harus mulai
berpikir; saya ini sombong atau tidak? Apakah saya ini riya atau tidak?
Apakah saya ini orang takabur atau tidak? Apakah saya ini pendengki
atau bukan? Belajarlah sekuat tenaga untuk mengetahui diri ini
sebenarnya. Kalau perlu buat catatan khusus tentang
kekurangan-kekurangan diri kita {tentu saja tak perlu kita beberkan
pada orang lain}. Ketahuilah bahwa kejujuran pada diri ini merupakan
modal yang teramat penting sebagai langkah awal kita untuk memperbaiki diri
kita ini Memiliki partner.<br />
<br />
Kawan sejati yang memiliki komitmen untuk saling
mengkoreksi semata-mata untuk kebaikan bersama yang memiliki komitmen untuk
saling mewangikan mengharumkan memajukan dan diantara menjadi cermin
bagi satu yang lainnya. Tidak ada yg ditutup-tutupi. Tentu saja dengan
niat dan cara yang benar jangan sampai malah saling membeberkan aib yg
akhir terjerumus pada fitnah. Partner ini bisa istri suami adik kakak
atau kawan-kawan lain yang memiliki tekad yg sama untuk mensucikan diri.
Buatlah prosedur yg baik jadwal berkala sehingga selain mendapatkan
masukan yang berharga tentang diri ini dari partner kita kita juga bisa
meni&rsquo;mati proses ini secara wajar.
</div>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Memanfaatkan orang yg tak menyukai kita. Mengapa? Tiada lain karena
orang yg membenci kita ternyata memiliki kesungguhan yang lebih dibanding
orang yang lain dalam menilai memperhatikan mengamati khusus dalam hal
kekurangan diri. Hadapi mereka dengan kepala dingin tenang tanpa sikap yang
berlebihan. Anggaplah mereka sebagai aset karunia Allah yang perlu kita
optimalkan keberadannya. Karena jadikan apapun yang mereka katakan apapun
yang mereka lakukan menjadi bahan perenungan bahan untuk ditafakuri bahan
untuk dimaafkan dan bahan untuk berlapang hati dengan membalas justru oleh
aneka kebaikan. Sungguh tak pernah rugi orang lain berbuat jelek kepada
diri kita. Kerugian adalah ketika kita berbuat kejelekkan kepada orang
lan.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<div align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
</div>
<p align=\"\\&quot;justify\\&quot;\">
Tafakuri kejadian yang ada di sekitar kita.
</p>
<div align=\"justify\">
Kejadian di negara tingkah polah para pengelola negara akhlak
pemimpin negara atau tokoh apapun dan siapa pun di negeri ini. Begitu
banyak yang dapat kita pelajari dan tafakuri dari mereka baik dalam hal
kebaikan ataupun kejelekkan/kesalahan . Selain itu dari orang-orang yang
ada di sekitar kita seperti teman tetangga atau tamu yang mereka itu
merupakan bahan untuk ditafakuri. Mana yang menyentuh hati kita menaruh
rasa hormat kagum kepada mereka. Mana yang akan melukai hati mendera
perasaan mencabik qalbu karena itu juga bisa jadi bahan contoh bahan
perhatian lalu tanyalah pada diri kita mirip yang mana? Tidak usah kita
mencemooh orang lain tapi tafakuri perilaku orang lain tersebut dan
cocokkan dengan keadaan kita. Ubahlah sesuatu yang dianggap melukai
seperti yang kita rasakan kepada sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang
dianggap mengagumkan kepada perilaku kita seperti yang kita kagumi
tersebut. Mudah-mudahan dengan riyadhah tahap awal ini kita mulai mengenal
siapa sebenar diri kita?
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Hati yang Penuh Syukur</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/552/hati-yang-penuh-syukur</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/552/hati-yang-penuh-syukur</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/552/hati-yang-penuh-syukur</guid>
			  <description>Segera, dihampiri dengan perasaan sedikit was was. Seketika, matanya terbelalak kaget melihat bungkusan berisi bayi merah yang tergeletak di situ. Setelah melihat di sekeliling tempat itu yang tampak sepi-sepi saja, ... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p align=\"justify\">
Alkisah, di sebuah senja kelabu di pinggiran kota kecil Taiwan, tampak 
seorang laki-laki sedang berjalan pulang ke rumah dari tempat kerjanya 
sebagai supir taksi. Tiba-tiba, perhatiannya tertuju pada gerakan rumput
dan suara gemerisik di sela-sela bebatuan di tepi jalan. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Segera, dihampiri dengan perasaan sedikit was was. Seketika, matanya 
terbelalak kaget melihat bungkusan berisi bayi merah yang tergeletak di 
situ. Setelah melihat di sekeliling tempat itu yang tampak sepi-sepi 
saja, segera diangkat bungkusan bayi itu dengan hati-hari dan dengan 
tergopoh-gopoh dibawa pulang ke rumahnya. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Setelah terkaget-kaget mendengar cerita dan melihat temuan suaminya, si 
istri segera mengambil alih menggendong si bayi dengan perasaan sayang. 
Mereka adalah sepasang suami istri, yang telah lama mendambakan 
kehadiran anak di tengah keluarga. Bayi yang masih merah itu terasa 
seperti pemberian Yang Maha Kuasa kepada keluarga mereka. <br />
<br />
Waktu terus berjalan. Selang kira-kira usia dua tahun, karena merasa ada
yang janggal dengan kemampuan berbicara dan reaksi pendengarannya yang 
sangat lambat, kedua orangtua itu membawa anaknya ke rumah sakit. 
Kecurigaan mereka pun terjawab, anak tersebut memang cacat sejak lahir, 
yaitu bisu tuli. Walaupun sempat terpukul sesaat, namun perasaan sayang 
yang telah terpupuk selama ini, membuat mereka memutuskan untuk tetap 
memelihara dan membesarkan si kecil yang sedang lucu-lucunya. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Tahun pun dengan cepat berganti. Walaupun cacat, si gadis kecil adalah 
anak yang cerdas dan mendapat pendidikan yang baik di sekolah luarbiasa 
hingga mampu lulus SMA. Setelah lulus, melalui tes dia diterima masuk 
untuk bidang seni di perguruan tinggi kota besar.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Perasaan gembira dan sedih pun silih berganti. Gembira karena 
diterimanya si anak ke universitas terkenal, sedih harus berpisah jauh 
dan dibutuhkan biaya yang besar untuk itu.       
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Demi mewujudkan impian anaknya, kedua orangtua itu bertekad untuk 
berhemat dan bekerja mati-matian. Sejak saat itu, si ayah bekerja sangat
keras, hampir setiap hari pulang ke rumah hingga larut malam.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Namun...hidup memang sering tidak sesuai dengan rencana manusia. Di saat
kuliah memasuki tahun ke-2, suatu malam si ayah pergi dan tidak pernah 
kembali. Taksi yang dikendarainya bertabrakan dan nyawanya tidak 
terselamatkan. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Si anak tahu, betapa berat beban biaya yang harus dipikul ibunya dan dia
memutuskan untuk berhenti kuliah, pulang dan bekerja serta menemani 
ibunya di rumah. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Mengetahui itu, si ibu sangat tersentuh dengan pengertian anaknya. 
Tetapi, ia menegaskan, <br />
&quot;Ibu tahu kesedihanmu, Nak. Ibu juga sangat kehilangan ayahmu. Tetapi 
kamu tidak boleh berhenti kuliah. Belajarlah yang benar! Selesaikan 
kuliahmu secepatnya dan ibu tunggu kepulanganmu dengan ijazah di tangan.
Dan setiap bulan, ibu akan berusaha mengirimkan uang untuk biaya mu di 
sana. Ingat, jangan berpikir pulang sebelum kuliahmu selesai. Jika kamu 
gagal, ibu dan ayahmu di alam sana pasti kecewa karena kerja keras dan 
pengorbanan kami selama ini akan sia-sia.&quot; 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Waktu terus berjalan. Selesai wisuda, dengan bangga dan kegembiraan yang
meluap serta kerinduan yang sangat, si anak segera pulang ke desanya. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Setiba di rumah, dia mengetuk berulangkali pintu rumahnya yang tertutup 
rapat. Dan sungguh tidak pernah diduga sama sekali, pertemuan dengan 
tetangganya ternyata membuat hatinya lumpuh seketika.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Nak, ibumu setahun lalu telah meningal dunia. Maafkan kami tidak 
memberitahu karena ibumu meminta kami bersumpah untuk merahasiakannya. 
Semua sisa uang tabungan ibumu dititipkan ke kami untuk dikirimkan 
kepadamu setiap bulan dan dia pun meminta kami membalaskan 
surat-suratmu. Masih ada satu rahasia besar yang sebenarnya ayah ibumu 
sembunyikan darimu. Bahwa kamu sesungguhnya bukan anak kandung mereka. 
Walaupun kamu cacat dari bayi, mereka tidak peduli. Mereka tetap 
menyayangimu melebihi anak kandung sendiri.&quot;
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Mendengar semua cerita tentang dirinya, duka yang mendalam tidak mampu 
diwujudkan dalam teriakan histeris. Hanya derasnya airmata yang mengalir
tak terbendung.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Di depan makam kedua orangtuanya, sambil bersimbah air mata, si gadis 
bersujud dan mendoakan kebahagiaan orangtuanya.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Dan, demi mengenang dan mencurahkan rasa syukur yang besar atas kasih 
sayang dan pengorbanan kedua orangtuanya, lahirlah sebuah puisi yang 
sangat menyentuh, berjudul &quot;<strong>Gan En De Xin</strong>&quot; (<strong><em>Hati
yang Penuh Syukur</em></strong>).
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Anak lebih aktif, sehat, dan cerdas</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/551/anak-lebih-aktif-sehat-dan-cerdas</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/551/anak-lebih-aktif-sehat-dan-cerdas</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/auladi/551/anak-lebih-aktif-sehat-dan-cerdas</guid>
			  <description>Gemas deh, melihat si kecil maunya naik tangga, meloncat dari kursi, atau berlari di lantai yang baru saja dipel. Anda berusaha untuk selalu ‘mengikatnya’ di stroller atau menggendongnya. Belum lagi kalau diajak jalan-jalan ke mal, maunya selalu lari menjauh dari Anda, atau tiba-tiba menarik berbagai benda di sekitarnya. Rasanya cemas kalau dia.. [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <p align=\"justify\">
Gemas deh, melihat si kecil maunya naik tangga, meloncat dari kursi, 
atau berlari di lantai yang baru saja dipel. Anda berusaha untuk selalu 
&lsquo;mengikatnya&rsquo; di stroller atau menggendongnya. Belum lagi kalau diajak 
jalan-jalan ke mal, maunya selalu lari menjauh dari Anda, atau tiba-tiba
menarik berbagai benda di sekitarnya. Rasanya cemas kalau dia sampai 
jatuh atau terbentur. Akibatnya, Anda berusaha untuk selalu 
&lsquo;mengikatnya&rsquo; di stroller, menggendongnya, mendudukkannya di kereta 
belanja ataupun memasukkannya di boks bermain. Setelah itu, Anda pun 
bisa melakukan berbagai aktivitas dengan lebih tenang. <br />
<br />
Kalau Anda melakukan itu, sebetulnya Anda sudah menghalangi anak untuk 
tumbuh sehat dan cerdas. Jika ia tak beraktivitas, kemampuan tangan dan 
kakinya tidak akan terlatih, sehingga justru nantinya makin canggung 
dalam bergerak. Aktivitas juga memberi stimulus tambahan bagi otak untuk
meningkatkan kecerdasan, bukan hanya cerdas dalam bergerak, namun juga 
mendapat wawasan. Aktivitas juga bisa menjadi pelepas stres sehingga 
meningkatkan perkembangan emosi anak. Sebaliknya, kurangnya aktivitas 
justru bisa membuat anak kegemukan. <br />
<br />
Jadi, jika Anda menginginkan yang terbaik untuk anak, Anda bisa mencoba 
cara berikut: 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
1.&nbsp;Cari lapangan, atau taman, dan pastikan tidak ada hal berbahaya di
sekitarnya. Menurut David Bernhardt, dokter anak spesialis olahraga di 
University of Wisconsin di Madison, membiarkan anak berada di suatu 
tempat yang cukup luas adalah salah satu cara terbaik untuk membuat anak
bergerak.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
2.&nbsp;Pasang CD lagu anak-anak. Berdansalah bersama mengikuti irama 
lagu. Terutama jika sulit pergi keluar rumah (misalnya karena anak sakit
atau hujan deras atau si kecil mengamuk karena bonekanya hilang).<br />
<br />
3.&nbsp;Jalan bersama keliling kompleks, menyiram tanaman sambil main air, 
mengajaknya ikut membersihkan kaca jendela, yang penting ia ikut 
bergerak. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
4.&nbsp;Isi penuh kolam plastik anak dan biarkan mereka bersenang-senang. 
Atau biarkan mereka meloncati berbagai benda yang ada di ruang bermain. 
Anda tinggal mengawasi dan meneriakkan yel-yel dukungan.
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
5.&nbsp;Libatkan ia dalam kelas aktivitas bagi anak seusianya. Ada 
berbagai &lsquo;sekolah&rsquo; atau tempat beraktivitas bagi anak yang menyediakan 
berbagai permainan gym dengan pengawasan guru berpengalaman. Sudah tentu
tujuannya bukan untuk mencetak anak sebagai juara olimpiade, tapi 
sebagai sarana aktivitas anak. <br />
</p>
<div align=\"justify\">
Sumber: parenting.co.id
</div>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Create Your Hoki and Success </title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/550/create-your-hoki-and-success</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/550/create-your-hoki-and-success</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/550/create-your-hoki-and-success</guid>
			  <description>Dalam kehidupan sehari-hari, kita tak pernah lepas dari yang namanya takdir atau kodrat. Namun, sebelum semuanya terjadi, pasti ada hal-hal tertentu, baik kecil maupun besar, yang kita lakukan. Ada yang berusaha keras, ada yang bermalas-malas, ada yang rajin, ada pula yang hanya pasif menunggu nasib. Semua orang bisa berbeda-beda, ... [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"justify\">
<strong>Dalam kehidupan sehari-hari, kita tak pernah lepas dari yang 
namanya takdir atau kodrat</strong>. Namun, sebelum semuanya terjadi, 
pasti ada hal-hal tertentu, baik kecil maupun besar, yang kita lakukan. 
Ada yang berusaha keras, ada  yang bermalas-malas, ada yang rajin, ada 
pula yang hanya pasif menunggu nasib. Semua orang bisa berbeda-beda, 
baik sikap maupun pemikirannya. Maka, tak mengherankan jika perbedaan 
ini pulalah yang akan membedakan nasib satu orang dengan orang lainnya. 
</div>
<p align=\"justify\">
Menurut saya, kita sebagai umat manusia <strong>punya kewajiban untuk 
terus berusaha dan berupaya mewujudkan impian kita</strong>. Sebab, apa 
pun yang kita lakukan, pasti akan menghasilkan sesuatu. Dan, hal ini <strong>akan
semakin kuat jika kita melandasinya dengan nilai spiritual</strong>, 
seperti dengan selalu berbuat baik, benar, dan halal, yang dilandasi 
pula dengan kekuatan doa. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
<u>Pengertian mendalam tentang hal ini juga terlihat di kisah berikut 
ini: </u>
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Suatu kali, di negara Taiwan, ada seorang konglomerat dan pengusaha 
kaya. Hebatnya, kekayaan itu menurut banyak pihak diperoleh benar-benar 
dari nol. Karena itu, tak mengherankan jika apa yang dilakukannya mampu 
menginspirasi banyak pihak. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Suatu ketika, karena penasaran, ada seorang pemuda yang ingin berupaya 
belajar serta menimba pengalaman dari sang pengusaha. Setelah mencoba 
beberapa kali, akhirnya sang pemuda berhasil menemui si pengusaha 
sukses. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Terima kasih Bapak mau menerima saya. Terus terang, saya sangat ingin 
menimba pengalaman dari Bapak sehingga bisa sukses seperti Bapak,&quot; ujar 
pemuda itu berseri-seri. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Mendengar permintaan itu, sang pengusaha tersenyum sejenak. Kemudian, ia
pun meminta anak muda tadi menengadahkan tangannya. Si pemuda pun 
terheran-heran. Namun, lantas si pengusaha pun menjelaskan maksudnya. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Biar aku lihat peruntunganmu. Aku ingin melihat garis tanganmu. Dan, 
simaklah baik-baik apa pendapatku tentangmu sebelum aku memberikan 
pelajaran seperti yang kamu minta,&quot; jawab pengusaha tersebut. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Setelah menengadahkan kedua tangannya, si pengusaha pun berkata. 
&quot;Lihatlah telapak tanganmu ini. Di sini ada beberapa garis utama yang 
menentukan nasib. Di sana ada garis kehidupan. Kemudian, di sini ada 
garis rezeki, dan ada pula garis jodoh. Sekarang, menggenggamlah. Di 
mana semua garis tadi?&quot;
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Di dalam telapak tangan yang saya genggam,&quot; jawab si pemuda yang 
penasaran. 
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
&quot;Nah, apa artinya itu? Hal itu mengandung arti, bahwa <strong>apa pun 
takdir dan keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri</strong>.
Kamu lihat bukan, bahwa semua garis tadi ada di tanganmu. Dan, 
begitulah rahasia suksesku selama ini. Aku berjuang dan berusaha dengan 
berbagai cara untuk menentukan nasibku sendiri,&quot; terang si pengusaha. 
&quot;Tetapi, coba lihat pula genggamanmu. Bukankah masih ada garis yang 
tidak ikut tergenggam? Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu. 
Karena, di sanalah letak kekuatan spiritual dari Sang Maha Pencipta.&quot;
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
<strong>Teman-teman yang luar biasa,</strong>
</p>
<div align=\"justify\">
</div>
<p align=\"justify\">
Mari, pastikan agar diri kita selalu mau bekerja keras, berjuang 
maksimal, dengan menetapkan target yang menantang di depan. Dan, landasi
setiap sikap dengan kekayaan mental. Lakukan semuanya dengan hati 
ikhlas, secara baik dan benar, di jalan yang halal. Perbanyak pula 
kegiatan derma atau membantu sesama. Sukses menanti kita semua...!! 
Salam sukses, luar biasa!
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item>
			<item>
			  <title>Besi Batangan Digosok Menjadi Jarum</title>
			  <link>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/549/besi-batangan-digosok-menjadi-jarum</link>
			  <comments>http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/549/besi-batangan-digosok-menjadi-jarum</comments>
   			  <pubDate>Thu, 01 Jan 1970 07:00:00 +0700</pubDate>
			  <author>Moslem Society of Indonesia-CyberMQ</author>
			  <guid isPermaLink="false">http://www.cybermq.com/kolom/detail/motivation/549/besi-batangan-digosok-menjadi-jarum</guid>
			  <description>Selama memiliki keteguhan hati, besi batangan pun bisa digosok menjadi jarum.Pelajaran ini saya peroleh pada saat saya belajar di bangku sekolah dasar, dan mengandung filosofi yang luar biasa! Alkisah, pada zaman dulu di daratan Tiongkok, diceritakan oleh seorang sastrawan besar bernama Li Bai, [...]</description>
			  <content:encoded><![CDATA[ <div align=\"center\">
Selama memiliki keteguhan hati, besi batangan pun bisa digosok 
menjadi jarum.
</div>
<p>
Pelajaran ini saya peroleh pada saat saya belajar di bangku sekolah 
dasar, dan mengandung filosofi yang luar biasa! Alkisah, pada zaman dulu
di daratan Tiongkok, diceritakan oleh seorang sastrawan besar bernama <strong>Li
Bai</strong>, yang  berkisah tentang pengalaman dirinya di masa kecil. 
Pengalaman itu mampu merubah mindset atau pola pikirnya. Inilah 
kisahnya...
</p>
<p>
Seorang bocah kecil tinggal di sebuah desa dengan kenakalan dan 
kebandelannya. Anak ini sering tidak mengikuti pelajaran membaca dan 
menulis yang seharusnya dia ikuti. Dia lebih menyukai bermain-main, 
berkelana menyusuri jalanan desa dan tepian sungai. 
</p>
<p>
Suatu hari di tepian sungai, dia melihat seorang nenek sedang melakukan 
kegiatan yang berulang-ulang dilakukan. Sampai beberapa hari dia 
melintas di sana, si nenek tetap melakukan kegiatan yang sama. Hal itu 
menimbulkan keingintahuan si anak. Maka terjadilah dialog sebagai 
berikut: 
</p>
<p>
&quot;Nek beberapa hari ini saya melihat nenek melakukan hal yang sama terus 
menerus! Sebenarnya nenek sedang melakukan apa sih?&quot;
</p>
<p>
Sambil tersenyum, nenek pun menjawab, &quot;Nenek sedang menggosok besi 
batangan ini, Nak.&quot;
</p>
<p>
&quot;Untuk apa nenek menggosok besi batangan itu?&quot; jawab si bocah.
</p>
<p>
&quot;Nenek menggosok besi batangan ini untuk dijadikan sebatang jarum!&quot; 
</p>
<p>
&quot;Wah! Mana mungkin Nek, besi batangan sebesar ini bisa digosok menjadi 
jarum?&quot;
</p>
<p>
Nenek menatap ke arah muka si bocah dan menjawab dengan tegas, &quot;Selama 
kita memiliki kemauan dan kesabaran, selama kita memiliki keteguhan, 
keyakinan, dan keuletan, besi batangan ini bila digosok terus menerus 
suatu hari nanti pasti akan menjadi jarum!&quot;
</p>
<p>
Si anak terhenyak mendengar jawaban nenek. Peristiwa ini terekam begitu 
dalam di benak si anak, mengubah sikap mentalnya dan menjadi seorang 
pelajar yang rajin belajar, disiplin, ulet. Dan setelah dewasa si anak 
menjadi sastrawan yang terkenal dan kata-kata mutiara ini menjadi sangat
populer sampai hari ini.
</p>
<p>
<em><strong>Netter yang luar biasa!</strong></em>
</p>
<p>
Sungguh luar biasa kekuatan keteguhan hati, seperti kata pepatah dalam 
bahasa Inggris: &quot;<strong><em>The real successful person are ordinary 
people with extraordinary determination</em></strong>.&quot;  Orang sukses 
adalah orang yang biasa-biasa saja, tapi yang memiliki ketetapan, 
keuletan, dan keteguhan hati yang luar biasa. 
</p>
<p>
Sikap keteguhan hati di dalamnya mengandung keyakinan, kesabaran, 
keuletan, konsistensi, dan semangat juang yang terus menerus tanpa henti
sampai tercapainya apa yang diinginkan.
</p>
<p>
<strong>Miliki keteguhan hati dan keuletan! Praktikkan keteguhan hati di
perjuangan kehidupan Anda, niscaya usaha Anda/perjuangan Anda akan 
menghasilkan kesuksesan serta kehidupan yang lebih bernilai dan 
cemerlang.</strong>
</p>
<p>
Sekali lagi, <strong>selama memiliki keteguhan hati, besi batangan pun 
bisa digosok menjadi jarum</strong>.
</p>
<p>
Salam sukses LUAR BIASA!
</p>
 ]]></content:encoded>
			</item></channel></rss> 